Kargozari da’wah dari Status ADAB_ADAB SUNNAH RASUL S.A.W DALAM AGAMA

Kenapa Allah swt hadirkan gelap!
Agar kita tahu bahwa dengan
terang segalanya akan terlihat
jelas, lantas kenapa Allah swt
hadirkan masa lalu yang suram
dalam hidup kita ! agar kita
sadar bahwa hidayah itu suatu
yang mahal, yang Allah swt
berikan kepada siapa saja yang
mau membuka hati untuk
perkara hidayah. Karena setiap
orang, ya setiap orang tanpa
kecuali, lepas apakah dia seorang
yang memiliki kepahaman agama
yang tinggi atau hanya seorang
ahli maksiat mempunyai
kesempatan yang sama untuk
memperoleh hidayah, tinggal
seberapa jauh kita mau meraih
dan mempertahankan hidayah
tersebut.
Beberapa waktu yang lalu , Allah
swt betul-betul telah
“menampar” saya dalam artian
yang sesungguhnya. Melalui
kepergian seorang sahabat, Allah
seakan ingin menunjukan bahwa
hidayah dan surga bukan milik
sekelompok orang, melainkan
milik setiap orang yang dengan
hati hancur datang kedepan
pintu-Nya, berharap memperoleh
kasih-Nya.
Betapa adilnya Allah dan betapa
beruntungnya sahabat saya,
karena Allah telah pilih dia
kembali kepada-Nya dalam
keadaan memperbaiki diri
dirumah-Nya dalam balutan
malam yang tenang, yang hanya
Allah dan malaikat-Nya yang
mengetahui bagaimana
perjuangan almarhum sahabat
saya meninggal dunia dalam
pertobatannya.
Ketika pertama kali bertemu
dengannya, saya memandang
hanya dengan sebelah mata, iblis
telah menguasai hati saya ,
sehingga perasaan lebih baik
darinya yang waktu itu muncul,
tapi keinginan untuk menjadi
lebih baik yang datang dari
hatinya menghantarkan dia pada
pintu hidayah-Nya.
Pagi itu seperti bulan-bulan
sebelumnya, saya dan beberapa
teman mengadakan program
perbaikan diri dengan cara
beritikaf dimasjid sekitar tempat
tinggal untuk belajar dakwah.
Dan seperti biasa pula setiap
pagi diadakan taklim pagi,
dimana dibacakan kisah-kisah
para sahabat Nabi dan perbaikan
cara membaca alqur’an.
Selama mejalani program taklim,
mata saya seakan sulit diajak
kompromi, begitu berat untuk di
buka, bukan karena malam
sebelumnya saya banyak
melakukan sholat malam,
melainkan begitu banyaknya
dosa yang ada di diri saya
sehingga dalam majelis ilmu saya
masih juga mengantuk. Seperti
biasa setiap taklim pagi maka di
buat jaulah taklim ( berkeliling di
sekitar lingkungan masjid untuk
mengajak orang duduk dalam
majelis taklim ). Saya dan seorang
teman mendapatkan tugas jaulah
taklim. Dan garis nasib
menghantarkan saya bertemu
dengan sekelompok pemuda
yang satu diantaranya menjadi
sahabat saya. Beberapa orang
dari pemuda itu mencoba pergi
ketika melihat saya dan teman
saya mendekat , mungkin
mereka fikir kami kelompok
Islam garis keras yang mencoba
mengganggu keasikan mereka,
tinggal seorang pemuda yang
tetap berada di situ. Kami
mencoba memperkenalkan diri
dan menerangkan maksud
tujuan kami datang menemui
dirinya serta kami mengajak
beliau sama-sama ke masjid
untuk duduk dalam majelis
taklim yang baru saja di mulai.
Pemuda itu hanya diam, entah
apa yang ada di benaknya,
apakah dia berpikir saya dan
teman saya hanyalah sekelompok
orang yang mengganggu
kesenangan dirinya atau
entahlah mungkin hanya dirinya
dan Tuhan yang tahu.
Saya mulai aga kesal karena
dirinya seperti tiada reaksi sama
sekali, dia hanya tertunduk tanpa
berani beradu pandang,
beberapa saat sebelum kami
undur diri untuk kembali ke
masjid, tiba-tiba pemuda
tersebut akhirnya buka suara, ”
Apa boleh orang bertatto ke
masjid ?”, tanyanya waktu itu,
lantas saya menjawab boleh asal
dalam keadaan suci dari najis,
siapa saja asalkan dia muslim
boleh ke masjid. Dia hanya diam,
saya seperti mendapatkan angin
untuk terus berusaha agar dia
mau ikut ke masjid, saya mulai
bercerita banyak hal tentang
kisah-kisah para sahabat nabi
yang ketika masa jahiliyah begitu
jahil , tapi setelah mereka
bertaubat mereka menjadi ahli-
hali surga.
Akhirnya dirinya mau ikut ke
masjid bersama kami, setelah
membersihkan diri dan
mengenakan pakaian yang saya
pinjamkan ia duduk bersama
kami mendengarkan taklim pagi,
betapa gembiranya hati saya
ketika akhirnya ia mau ikut ke
masjid, tak ada kata-kata yang
sebanding dengan perasaan
saya pada waktu itu, mungkin
hanya orang-orang yang pernah
terjun langsung tahu bagaimana
sulitnya berdakwah di tengah-
tengah manusia untuk mengajak
mereka kembali kepada Allah dan
ketika satu diantara mereka mau
kembali taat kepada Allah,
rasanya dunia dan isinya tak
sebanding dengan perasaan
senang yang ada di diri kita.
Lepas bada zuhur, dirinya
mendekati saya dan menanyakan
apakah dirinya boleh bergabung
dengan kami, dan tentu saja
boleh karena dakwah adalah
tugas setiap umat Islam tanpa
kecuali, kalau hewan yang lebih
rendah dari manusia boleh
berdakwah bahkan di abadikan
dalam alqur’an ( semut, burung
hud-hud dll ) apalagi manusia
yang mempunyai tugas sebagai
khalifatullah di muka bumi jelas
lebih boleh lagi untuk
berdakwah. Dengan berdakwah
Allah swt akan perbaiki diri kita
seperti yang terjadi pada diri
para Nabi dan sahabatnya dan
hal tersebut yang juga akan
terjadi pada diri setiap orang
yang mengambil kerja dakwah
sebagai jalan hidupnya.
Sepanjang hari ia hanya diam,
mungkin proses hidayah sedang
terjadi pada dirinya, dan lepas
tengah malam, saya menemuinya
sedang menangis berurai air
mata di pojok mesjid, saya tak
berani mendekat dan hanya
melihat dari kejauhan.
Pemandangan yang sangat
indah, dimana pada pagi hari
dirinya masih bermaksiat kepada
Allah swt tapi pada malamnya ia
sedang menangisi dosa-dosanya.
Saya menjadi malu terhadap diri
sendiri, seakan saya merindukan
saat-saat seperti itu , dimana
begitu nikmatnya melewati
malam berdua dengan-Nya,
bermunajad dihadapan-Nya
dengan air mata dan hati yang
hancur.
Beberapa bulan setelah kejadian
itu saya tidak lagi bertemu
dengan almarhum karena
memang tempat tinggal dan
kesibukan kami yang tidak
memungkinkan, tapi kami masih
tetap berhubungan via telpon ,
sampai akhirnya 2 minggu yang
lalu saya bertemu dengan dirinya
di salah satu mesjid tua di
kawasan kebun jeruk Jakarta
Pusat.
“Ane mau belajar dakwah 40
hari “ ucapnya. Saya hanya bisa
tersenyum bahagia mendengar
penuturannya. ” Routenya
kemana ? “ Tanya saya. “Belum di
putus, besok pagi selepas bayan
subuh baru ketahuan routenya,
karena ane gabung dengan
jamaah yang lain” jawabnya
singkat. Sesaat kemudian dirinya
bertanya hal yang sama seperti
saat kami pertama kali bertemu.
” Apa di surga ada orang yang
bertatto?” tanyanya dengan aga
ragu. Dan sekali lagi saya yang
sombong , yang angkuh yang
ahli maksiat tapi sok bersih
menjawab dengan ringannya
tanpa mencerna dan berpikir
lebih jauh tentang pertanyaan
Almarhum tersebut. “Mana ada di
surga orang yang bertatto , kalau
di neraka banyak”. Jawab saya,
dan almarhum hanya tertunduk
sedih, saya segera menyadari
kesalahan saya dan meralat
ucapan saya “Tapi ente tenang
aja kalau ente tetep buat
dakwah , nanti ente juga akan
masuk surga dan Allah sendiri
yang akan menghapus tatto
ente”. Almarhum sahabat saya
tersenyum bahagia dengan
jawaban saya, senyum yang
terakhir yang saya lihat, karena
saya tidak akan pernah melihat
senyumnya lagi, sebuah sms saya
terima malam kemarin yang
mengabarkan ia telah meninggal
dunia ketika dirinya sedang
berlajar berdakwah, islah diri,
belajar menjadi hamba yang taat,
belajar mencintai Allah swt dan
Rasul-Nya.
Selepas bersilaturahmi bada isya
almarhum pamit dengan amir
jamaah untuk tidur lebih awal
karena kondisi badannya yang
kurang baik, dan mendekati
subuh terlihat almarhum masih
tertidur, dan ketika salah satu
rekan mencoba
membangunkannya ternyata
almarhum telah tiada, pergi
meninggalkan dunia untuk
bertemu Allah swt bertemu
dengan sosok yang dicintainya
yaitu Rasulullah saw dan para
sahabat-nya, meninggalkan
dunia pada saat pertobatannya.
Kematian yang indah, yang selalu
saya rindukan, mati di jalan-Nya,
mati ketika mencoba meraih
cinta-Nya.
Selamat jalan sahabat, di surga
memang tiada akan ada pria
bertatto , yang ada hanya pria
tampan, yang suka miscall
tengah malam untuk bangunin
tahajud, yang suka bangun
malam dan nangis kaya anak
kecil, yang suka bikin gw kesel
karena selalu berantakan kalau
makan berjamaah, yang suka
tiba-tiba batalin janji pada hal
udah jauh-jauh hari dibuat. Kita
memang gak akan pernah
ketemu lagi di dunia, gak pernah
bisa keluar masturah bareng, gak
pernah akan bisa ke IPB ( India,
Pakistan, Bangladesh ) berdua.
Dan elo gak bisa baca blog gw
lagi, pada hal elo pengen banget
kita sama-sama hadir ijtima
Bulan Juli nanti dan elo pengen
banget ngerasin duduk di bawah
tenda dan poto elo gw tampilin
di blog jelek gw ini, tapi rasanya
itu cuma mimpi, karena pastinya
gak akan bisa terjadi. Sekarang
elo dah tenang di sana, tugas elo
di dunia dah selesai, tinggal gw
yang masih gamang dengan
jalan hidup sendiri.
Selamat jalan sahabat, semoga
Allah selalu menjaga dan
menerima tobat dirimu. Semoga
kami yang di tinggalkan dapat
memetik banyak pelajaran dari
perjalanan hidupmu. Dan
semoga Allah swt kekalkan kami
dalam usaha dakwah, dakwah
sebagai maksud hidup, hidup
untuk dakwah , dakwah sampai
mati dan mati dalam dakwah.
Alloh humma firlahu war hamhu
wa afi’i wa’fuanhu. Aamiin.