Category: Adab Sunnah


Memakai sorban adalah sunnah dan ciri khas kaum muslimin, baik dalam sholat maupun di luar sholat, sebagaimana yang dijelaskan dalam beberapa hadits. Namun, tak ada satu hadits pun yang menjelaskan keutamaan tertentu memakai sorban saat sholat, kecuali hadits berikut:

“Sholat dua raka’at dengan memakai sorban lebih baik dibandingkan sholat 70 raka’at, tanpa sorban”. [HR. Ad-Dailamiy dalam Musnad Al-Firdaus sebagaimana yang disebutkan oleh As-Suyuthiy dalam Al-Jami’ Ash-Shoghir]

Sholat bukanlah permainan, tapi ia adalah tanda ketundukan, keseriusan, ketawadhuan, dan kerendahan diri di hadapan Allah -Azza wa Jalla-. Seyogyanya seorang hamba saat ia menghadap, ia mengenakan pakaian yang layak digunakan; jangan asal-asalan dalam melaksanakan sholat !! Pilihlah pakaian yang layak, sebab sebagian orang ada yang tidak memperhatikan pakaian dan kondisi dirinya, seperti ia masuk ke dalam sholat, tanpa mengenakan penutup kepala, semisal surban, songkok, dan lainnya. Seakan-akan ia adalah seorang pekerja kuli yang mengenakan pakaian seadanya, padahal ia menghadap Allah Robbul Alamin…..Allah -Ta’ala- berfirman:

“Hai anak Adam, pakailah perhiasan kalian di setiap (memasuki) mesjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan”. (QS. Al-A’raaf: 31).

Al-Imam Isma’il bin Umar bin Katsir Ad-Dimasyqiy-rahimahullah- berkata saat menafsirkan ayat ini, “Berdasarkan ayat ini dan hadits yang semakna dengannya dari Sunnah, maka dianjurkan berhias ketika hendak sholat, terlebih lagi di hari Jum’at, hari ied, dan juga (dianjurkan) menggunakan minyak wangi, karena ia termasuk perhiasan, serta (menggunakan) siwak, karena ia kesempurnaan hal itu. Diantara pakaian yang paling utama adalah pakaian putih”. [dalam Tafsir Ibnu Katsir (2/281)]

Diantara perhiasan seorang mukmin adalah penutup kepala, seperti songkok, dan imamah (Sorban). Kebiasaan Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam-, dan para sahabatnya, baik dalam sholat, maupun di luar sholat, mereka senantiasa mengenakan imamah Sorban), burnus (penutup kepala yang bersambung dengan pakaian), atau songkok. Adapun kebiasaan menelanjangi kepala, tanpa songkok atau surban, maka ini adalah kebiasaan orang di luar Islam.

Amr bin Huroits -radhiyallahu ‘anhu- berkata, أَ

“Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- pernah berkhutbah, sedang beliau memakai surban hitam”. [HR. Muslim (1359), Abu Dawud (4077), Ibnu Majah (1104 & 3584)]

Al-Hasan Al-Bashriy -rahimahullah- berkata dalam menceritakan kebiasaan sahabat dalam memakai songkok dan imamah,

“Dahulu kaum itu (para sahabat) bersujud pada surban, dan songkok (peci), sedang kedua tangannya pada lengan bajunya”. [HR. Al-Bukhoriy dalam Kitab Ash-Sholah: Bab As-Sujud ala Ats-Tsaub fi Syiddah Al-Harr (1/150) , Abdur Razzaq dalam Al-Mushonnaf (1566)]Abdullah bin Sa’id-rahimahullah- berkata,

“Aku lihat pada Ali bin Al-Husain ada sebuah songkok putih buatan Mesir”. [HR. Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushonnaf (24855)]

Jadi, disunnahkan bagi setiap orang yang mau melaksanakan shalat untuk mengenakan pakaian yang layak dan paling sempurna. Di antara kesempurnaan busana shalat adalah dengan memakai imamah (sorban), songkok, atau lainnya yang biasa dikenakan di kepala ketika beribadah, kepala hanya menjadi aurat bagi kaum wanita, bukan untuk kaum pria. Namun tentunya jangan dijadikan kebiasaan buruk seorang masuk ke dalam sholat ataupun di luar sholat tanpa mengenakan sorban atau songkok.

Seorang yang tidak memakai penutup kepala -tanpa udzur-, maka makruh hukumnya. Terlebih lagi ketika melakukan shalat fardhu, dan teristimewa lagi ketika mengerjakannya secara berjamaah. [Dalam As-Sunan wal Mubtadaat (hal. 69) karya Asy-Syuqoiriy].

Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albaniy-rahimahullah- berkata, “Menurut hematku, sesungguhnya shalat dengan tidak memakai tutup kepala hukumnya adalah makruh. Karena merupakan sesuatu yang sangat disunnahkan jika seorang muslim melakukan shalat dengan memakai busana islami yang sangat sempurna, sebagaimana yang telah disebutkan dalam hadits: “Karena sesungguhnya Allah paling berhak untuk dihadapi dengan berhias diri.” (Permulaan hadits di atas adalah:

“Jika salah seorang dari kalian mengerjakan shalat, maka hendaklah dia memakai dua potong bajunya. Karena sesungguhnya Allah paling berhak untuk dihadapi dengan berhias diri.” [HR Ath-Thahawi di dalam Syarh Ma’aani Al-Atsar (1/221), Ath-Thabrani, dan Al-Baihaqi As-Sunan Al-Kubra (2/236) juga disebutkan dalamAl-Majma’ Az-Zawa’id (2/51). dan As-Silsilah Ash-Shahihah no. 1369]

Syaikh Al-Albaniy berkata lagi, “Tidak memakai tutup kepala bukan kebiasaan baik yang dikerjakan oleh para ulama , baik ketika mereka berjalan di jalan maupun ketika memasuki tempat-tempat ibadah. Kebiasaan tidak memakai tutup kepala sebenarnya tradisi yang dikerjakan oleh orang-orang asing. Ide ini memang sengaja diselundupkan ke negara-negara muslim ketika mereka melancarkan kolonialisasi. Mereka mengerjakan kebiasaan buruk ini ; namun sayangnya malah diikuti oleh umat Islam. Mereka telah mengenyampingkan kepribadian dan tradisi keislaman mereka sendiri. Inilah sebenarnya pengaruh buruk yang dibungkus sangat halus yang tidak pantas untuk merusak tradisi umat islam dan juga tidak bisa dijadikan sebagai alasan untuk memperbolehkan shalat tanpa memakai tutup kepala.

Adapun argumentasi yang membolehkan membiarkan kepala tanpa tutup seperti yang dikemukakan oleh sebagian orang dari Jama’ah Anshorus Sunnah di Mesir adalah dengan mengkiaskannya kepada busana orang yang sedang memakai baju ihram ketika melaksanakan ibadah haji. Ini adalah usaha kias terburuk yang mereka lakukan. Bagaimana hal ini bisa terjadi, sedangkan tidak menutup kepala ketika ihram adalah syi’ar dalam agama dan termasuk dalam manasik, yang jelas tidak sama dengan aturan ibadah lainnya.

Seandainya kias yang mereka lakukan itu benar, pasti akan terbentur juga dengan pendapat yang mengatakan tentang kewajiban untuk membiarkan kepala agar tetap terbuka ketika ihram. Karena itu merupakan kewajiban dalam rangkaian ibadah haji. [dalam Tamamul Minnah fit Ta’liq ‘ala Fiqhis Sunnah (hal. 164-165)].

Tidak pernah disebutkan dalam sebuah riwayat yang menyatakan bahwa Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- tidak memakai tutup kepala ketika shalat kecuali hanya ketika ihram. Barangsiapa yang menyangka beliau pernah tidak memakai imamah (sorban) ketika shalat -selain pada saat melakukan ihram-, maka dia harus bisa menunjukkan dalilnya . [dalam Ad-Dinul Khalish (3/214) dan Al-Ajwibah An-Nafi’ah an Al-Masa’il Al-Waqi’ah (hal.110)]

Yang perlu disebutkan di sini adalah bahwa shalat tanpa mengenakan tutup kepala hukumnya adalah makruh. Sholat tidak batal sebagaimana yang disebutkan oleh Al-Baghawi dan mayoritas ulama lain. Namun jangan disangka kalau hukum sekedar makruh, oh boleh dengan bebas tidak pakai tutup kepala, tidak demikian !! Karena ini bukan kebiasaan Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- dan para sahabat. [Lihat Al-Majmu’ (2/51).

Saudarku yang kumuliakan.

Sorban (Imamah) atau penutup kepala adalah sunnah Rasulullah SAW, … Rasulullah SAW bersabda : Perbedaan antara kita dengan musyrikin adalah Imamah diatas kopyah / peci (dalam Mustadrak ala shahihain hadits no.5903).

maksudnya bahwa muslimin mempunyai ciri khas yg tak dimiliki orang2 musyrikin, yaitu sorban yg dilipatkan pada peci. maka jelaslah bahwa Rasulullah SAW sangat menginginkan ummatnya memakai ini.

bila seseorang bertanya mengapa anda menggunakan sorban, katakan padanya karena sunnah, dan sunnah sudah mulai asing di hadapan muslimin sendiri, maka wajib kita mengenalkannya pada masyarakat,

jangan tertipu dengan ucapan kamu belum pantas pakai sorban!, ini ucapan orang yg menentang sunnah, orang yg belum pantas pakai sorban hanyalah orang non muslim, dan semua muslim sudah pantas pakai sorban, bila belum mau maka tak apa.

Inilah beberapa hadits dan atsar yang menunjukkan bahwa (Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam-, sahabat, tabi’in, dan tabi’ut tabi’in), dan generasi setelahnya memiliki akhlaq, dan kebiasaan, yaitu menutup kepala baik di luar sholat, apalagi dalam sholat. Kebiasaan dan sunnah ini telah ditinggalkan oleh generasi Islam, hanya karena alasan malu, dan tidak sesuai zaman –menurut sangkaannya- !! Terlebih lagi dengan munculnya berbagai macam model, dan gaya rambut yang terkenal, seperti model Duran-Duran, Bechkham, Mandarin, dan lainnya. Semua ini menyebabkan sunnah memakai penutup kepala mulai pudar, dan menghilang.

wallahu a’lam

Copyright © Juni 2010, Allah Kuasa Makhluk Tak Kuasa

“Angkatlah sarungmu sampai setengah betis, jika engkau tidak suka maka angkatlah hingga di atas kedua mata kakimu. Perhatikanlah, sesungguhnya memanjangkan kain melebihi mata kaki itu termasuk kesombongan. Sedangkan Allah SWT tidak menyukai kesombongan.” [HR. Abu Dawud, an-Nasa’i, dan at-Tirmidzi dari haditsnya Jabir bin Salim].

“Tatkala kami bersama Rasulullah Saw, datanglah ‘Amru bin Zurarah al-Anshoriy dimana kain sarung dan jubahnya dipanjangkannya melebihi mata kaki (isbal). Selanjutnya, Rasulullah Saw segera menyingsingkan sisi pakaiannya (Amru bin Zurarah) dan merendahkan diri karena Allah SWT. Kemudian beliau Saw bersabda, “Budakmu, anak budakmu dan budak perempuanmu”, hingga ‘Amru bin Zurarah mendengarnya. Lalu, Amru Zurarah berkata, “Ya Rasulullah sesungguhnya saya telah melabuhkan pakaianku melebihi mata kaki.” Rasulullah Saw bersabda, “Wahai ‘Amru, sesungguhnya Allah SWT telah menciptakan segala sesuatu dengan sebaik-baiknya. Wahai ‘Amru sesungguhnya Allah SWT tidak menyukai orang yang melabuhkan kainnya melebihi mata kaki.” [HR. ath-Thabarni dari haditsnya Abu Umamah] Hadits ini rijalnya tsiqah. Dzahir hadits ini menunjukkan bahwa ‘Amru Zurarah tidak bermaksud sombong ketika melabuhkan kainnya melebihi mata kaki.

Riwayat-riwayat ini memberikan pengertian, bahwa isbal yang dilakukan baik karena sombong atau tidak, hukumnya haram. Akan tetapi, kita tidak boleh mencukupkan diri dengan hadits-hadits seperti ini. Kita mesti mengkompromikan riwayat-riwayat ini dengan riwayat-riwayat lain yang di dalamnya terdapat taqyiid (pembatas) “khuyalaa’”. Kompromi (jam’u) ini harus dilakukan untuk menghindari penelantaran terhadap hadits Rasulullah Saw. Sebab, menelantarkan salah satu hadits Rasulullah bisa dianggap mengabaikan sabda Rasulullah Saw. Tentunya, perbuatan semacam ini adalah haram.

Berdasarkan hadits yang diriwayatkan dari Ibnu ‘Umar, yakni perkataan Rasulullah Saw kepada Abu Bakar ra (“Kamu bukan termasuk orang yang melakukan hal itu karena sombong.”), menunjukkan bahwa manath (obyek) pengharaman isbal adalah karena sombong. Sebab, isbal kadang-kadang dilakukan karena sombong dan kadang-kadang tidak karena sombong. Hadits yang diriwayatkan dari Ibnu ‘Umar telah menunjukkan dengan jelas bahwa isbal yang dilakukan tidak dengan sombong hukumnya tidak haram.

Atas dasar itu, isbal yang diharamkan adalah isbal yang dilakukan dengan kesombongan. Sedangkan isbal yang dilakukan tidak karena sombong, tidaklah diharamkan. Imam Syaukani berkata, “Oleh karena itu, sabda Rasulullah Saw, ‘Perhatikanlah, sesungguhnya memanjangkan kain melebihi mata kaki itu termasuk kesombongan.’ [HR. Abu Dawud, an-Nasa’i, dan at-Tirmidzi dari haditsnya Jabir bin Salim], harus dipahami bahwa riwayat ini hanya berlaku bagi orang yang melakukan isbal karena sombong. Hadits yang menyatakan bahwa isbal adalah kesombongan itu sendiri —yakni riwayat Jabir bin Salim—harus ditolak karena kondisi yang mendesak. Sebab, semua orang memahami bahwa ada sebagian orang yang melabuhkan pakaiannya melebihi mata kaki memang bukan karena sombong. Selain itu, pengertian hadits ini (riwayat Jabir bin Salim) harus ditaqyiid dengan riwayat dari Ibnu ‘Umar yang terdapat dalam shahihain….Sedangkan hadits yang diriwayatkan oleh Abu Umamah yang menyatakan bahwa Allah SWT tidak menyukai orang-orang yang sombong hadir dalam bentuk muthlaq, sedangkan hadits yang lain yang diriwayatkan Ibnu ‘Umar datang dalam bentuk muqayyad. Dalam kondisi semacam ini, membawa muthlaq ke arah muqayyad adalah wajib….”

Dari penjelasan Imam Syaukani di atas kita bisa menyimpulkan, bahwa kesombongan adalah taqyiid atas keharaman isbal. Atas dasar itu, hadits-hadits yang memuthlaqkan keharaman isbal harus ditaqyiid dengan hadits-hadits yang mengandung redaksi khuyalaa’. Walhasil, isbal yang dilakukan tidak karena sombong, tidak termasuk perbuatan yang haram.

Tidak boleh dinyatakan di sini bahwa hadits yang diriwayatkan dari Ibnu ‘Umar tidak bisa mentaqyiid kemuthlakan hadits-hadits lain yang datang dalam bentuk muthlaq dengan alasan, sebab dan hukumnya berbeda. Tidak bisa dinyatakan demikian. Sebab, hadits-hadits tersebut, sebab dan hukumnya adalah sama. Topik yang dibicarakan dalam hadits tersebut juga sama, yakni sama-sama berbicara tentang pakaian dan cara berpakaian. Atas dasar itu, kaedah taqyiid dan muqayyad bisa diberlakukan dalam konteks hadits-hadits di atas. [Tim Konsultan Ahli Hayatul Islam

Copyright © Juni 2010, Allah Kuasa Makhluk Tak Kuasa

Mereka yang mewajibkan setiap wanita untuk menutup muka (memakai niqab) berangkat dari pendapat bahwa wajah itu bagian dari aurat wanita yang wajib ditutup dan haram dilihat oleh lain jenis non mahram.

Dalil-dalil yang mereka kemukakan antara lain:

A. Surat Al-Ahzab: 59

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا

Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu`min: `Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka`. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.` (QS. Al-Ahzab: 59)

Ayat ini adalah ayat yang paling utama dan paling sering dikemukakan oleh pendukung wajibnya niqab. Mereka mengutip pendapat para mufassirin terhadap ayat ini bahwa Allah mewajibkan para wanita untuk menjulurkan jilbabnya keseluruh tubuh mereka termasuk kepala, muka dan semuanya, kecuali satu mata untuk melihat. Riwayat ini dikutip dari pendapat Ibnu Abbas, Ibnu Mas`ud, Ubaidah As-Salmani dan lainnya, meskipun tidak ada kesepakatan di antara mereka tentang makna `jilbab` dan makna `menjulurkan`.

Namun bila diteliti lebih jauh, ada ketidak-konsistenan nukilan pendapat dari Ibnu Abbas tentang wajibnya niqab. Karena dalam tafsir di surat An-Nuur yang berbunyi (kecuali yang zahir darinya), Ibnu Abbas justru berpendapat sebaliknya.

Para ulama yang tidak mewajibkan niqab mengatakan bahwa ayat ini sama sekali tidak bicara tentang wajibnya menutup muka bagi wanita, baik secara bahasa maupun secara `urf (kebiasaan). Karena yang diperintahkan jsutru menjulurkan kain ke dadanya, bukan ke mukanya. Dan tidak ditemukan ayat lainnya yang memerintahkan untuk menutup wajah.

B. Surat An-Nuur: 31

وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلاَّ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ وَلا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلاَّ لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ آبَائِهِنَّ أَوْ آبَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي أَخَوَاتِهِنَّ أَوْ نِسَائِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُنَّ أَوِ التَّابِعِينَ غَيْرِ أُولِي الإِرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ أَوِ الطِّفْلِ الَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا عَلَى عَوْرَاتِ النِّسَاءِ وَلا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِنْ زِينَتِهِنَّ وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Katakanlah kepada wanita yang beriman: `Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang nampak dari padanya.` (QS. An-Nur: 31).

Menurut mereka dengan mengutip riwayat pendapat dari Ibnu Mas`ud bahwa yang dimaksud perhiasan yang tidak boleh ditampakkan adalah wajah, karena wajah adalah pusat dari kecantikan. Sedangkan yang dimaksud dengan `yang biasa nampak` bukanlah wajah, melainkan selendang dan baju.

Namun riwayat ini berbeda dengan riwayat yang shahi dari para shahabat termasuk riwayt Ibnu Mas`ud sendiri, Aisyah, Ibnu Umar, Anas dan lainnya dari kalangan tabi`in bahwa yang dimaksud dengan `yang biasa nampak darinya` bukanlah wajah, tetapi al-kuhl (celak mata) dan cincin. Riwayat ini menurut Ibnu Hazm adalah riwayat yang paling shahih.

C. Surat Al-Ahzab: 53

وَإِذَا سَأَلْتُمُوهُنَّ مَتَاعًا فَاسْأَلُوهُنَّ مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ ذَلِكُمْ أَطْهَرُ لِقُلُوبِكُمْ وَقُلُوبِهِنَّ وَمَا كَانَ لَكُمْ أَنْ تُؤْذُوا رَسُولَ اللَّهِ وَلا أَنْ تَنْكِحُوا أَزْوَاجَهُ مِنْ بَعْدِهِ أَبَدًا إِنَّ ذَلِكُمْ كَانَ عِنْدَ اللَّهِ عَظِيمًا

Apabila kamu meminta sesuatu kepada mereka, maka mintalah dari belakang tabir. Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka. Dan tidak boleh kamu menyakiti Rasulullah dan tidak mengawini isteri-isterinya selama-lamanya sesudah ia wafat. Sesungguhnya perbuatan itu adalah amat besar di sisi Allah.`(QS. Al-Ahzab: 53)

Para pendukung kewajiban niqab juga menggunakan ayat ini untuk menguatkan pendapat bahwa wanita wajib menutup wajah mereka dan bahwa wajah termasuk bagian dari aurat wanita. Mereka mengatakan bahwa meski khitab ayat ini kepada isteri Nabi, namun kewajibannya juga terkena kepada semua wanita mukminah, karena para isteri Nabi itu adalah teladan dan contoh yang harus diikuti.

Selain itu bahwa mengenakan niqab itu alasannya adalah untuk menjaga kesucian hati, baik bagi laki-laki yang melihat ataupun buat para isteri nabi. Sesuai dengan firman Allah dalam ayat ini bahwa cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka (isteri nabi).

Namun bila disimak lebih mendalam, ayat ini tidak berbicara masalah kesucian hati yang terkait dengan zina mata antara para shahabat Rasulullah SAW dengan para isteri beliau. Kesucian hati ini kaitannya dengan perasaan dan pikiran mereka yang ingin menikahi para isteri nabi nanti setelah beliau wafat.

Dalam ayat itu sendiri dijelaskan agar mereka jangan menyakiti hati nabi dengan mengawini para janda isteri Rasulullah SAW sepeninggalnya. Ini sejalan dengan asbabun nuzul ayat ini yang menceritakan bahwa ada shahabat yang ingin menikahi Aisyah ra bila kelak Nabi wafat. Ini tentu sangat menyakitkan perasaan nabi.

Adapun makna kesucian hati itu bila dikaitkan dengan zina mata antara shahabat nabi dengan isteri beliau adalah penafsiran yang terlalu jauh dan tidak sesuai dengan konteks dan kesucian para shahabat nabi yang agung.

Sedangkan perintah untuk meminta dari balik tabir, jelas-jelas merupakan kekhusususan dalam bermuamalah dengan para isteri Nabi. Tidak ada kaitannya dengan `al-Ibratu bi `umumil lafzi laa bi khushushil ayah`. Karena ayat ini memang khusus membicarakan akhlaq pergaulan dengan isteri nabi. Dan mengqiyaskan antara para isteri nabi dengan seluruh wanita muslimah adalah qiyas yang tidak tepat, qiyas ma`al-fariq. Karena para isteri nabi memang memiliki standart akhlaq yang khusus. Ini ditegaskan dalam ayat Al-Quran.

يَا نِسَاء النَّبِيِّ لَسْتُنَّ كَأَحَدٍ مِّنَ النِّسَاء إِنِ اتَّقَيْتُنَّ فَلَا تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ وَقُلْنَ قَوْلًا مَّعْرُوفًا

‘Hai isteri-isteri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang baik` (QS. Al-ahzab: 32)

D. Hadits Larang Berniqab bagi Wanita Muhrim (Berihram)

Para pendukung kewajiban menutup wajah bagi muslimah menggunakan sebuah hadits yang diambil mafhum mukhalafanya, yaitu larangan Rasulullah SAW bagi muslimah untuk menutup wajah ketika ihram.

لا تنتقب المرأة المحرمة، ولا تلبس القفازين

`Janganlah wanita yang sedang berihram menutup wajahnya (berniqab) dan memakai sarung tangan`.

Dengan adanya larangan ini, menurut mereka lazimnya para wanita itu memakai niqab dan menutup wajahnya, kecuali saat berihram. Sehingga perlu bagi Rasulullah SAW untuk secara khusus melarang mereka. Seandainya setiap harinya mereka tidak memakai niqab, maka tidak mungkin beliau melarangnya saat berihram.

Pendapat ini dijawab oleh mereka yang tidak mewajibkan niqab dengan logika sebaliknya. Yaitu bahwa saat ihram, seseorang memang dilarang untuk melakukan sesautu yang tadinya halal. Seperti memakai pakaian yang berjahit, memakai parfum dan berburu. Lalu saat berihram, semua yang halal tadi menjadi haram. Kalau logika ini diterapkan dalam niqab, seharusnya memakai niqab itu hukumnya hanya sampai boleh dan bukan wajib. Karena semua larangan dalam ihram itu hukum asalnya pun boleh dan bukan wajib. Bagaimana bisa sampai pada kesimpulan bahwa sebelumnya hukumnya wajib?

Bahwa ada sebagian wanita yang di masa itu menggunakan penutup wajah, memang diakui. Tapi masalahnya menutup wajah itu bukanlah kewajiban. Dan ini adalah logika yang lebih tepat.

E. Hadits bahwa Wanita itu Aurat Diriwayatkan oleh At-Tirmizy marfu`an

المرأة عورة

“Wanita itu adalah aurat, bila dia keluar rumah, maka syetan menaikinya`.

Menurut At-turmuzi hadis ini kedudukannya hasan shahih. Oleh para pendukung pendapat ini maka seluruh tubuh wanita itu adalah aurat, termasuk wajah, tangan, kaki dan semua bagian tubuhnya. Pendapat ini juga dikemukakan oleh sebagian pengikut Asy-Syafi`iyyah dan Al-Hanabilah.

Copyright © Juni 2010, Allah Kuasa Makhluk Tak Kuasa

Haid adalah salah satu najis yang menghalangi wanita untuk melaksanakan ibadah sholat dan puasa (pembahasan mengenai hukum-hukum seputar haidh telah disebutkan dalam beberapa edisi yang lalu), maka setelah selesai haidh kita harus bersuci dengan cara yang lebih dikenal dengan sebutan mandi haid.

Agar ibadah kita diterima Allah maka dalam melaksanakan salah satu ajaran islam ini, kita harus melaksanakannya sesuai tuntunan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dan Rasulullah telah menyebutkan tata cara mandi haid dalam hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dari ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha bahwa Asma’ binti Syakal Radhiyallahu ‘Anha bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tentang mandi haidh, maka beliau bersabda:

تَأْخُذُإِحْدَا كُنَّ مَائَهَا وَسِدْرَهَا فَتََطَهَّرُ فَتُحْسِنُ الطُّهُورَ أوْ تَبْلِغُ فِي الطُّهُورِ ثُمَّ تَصُبُّ عَلَى رَأْسِهَا فَتَدْلُكُُهُ دَلْكًا شَدِ يْدًا حَتََّى تَبْلِغَ شُؤُونَ رَأْسِهَا ثُمَّ تَصُبُّ عَلَيْهَا المَاءَ ثُمَّ تَأْخُذُ فِرْصَةً مُمَسَّكَةً فَتَطْهُرُ بِهَا قَالَتْ أسْمَاءُ كَيْفَ أتََطَهَّرُبِهَا قَالَ سُبْحَانَ الله ِتَطَهُّرِي بِهَا قَالَتْْ عَائِشَةُ كَأنَّهَا تُخْفِي ذَلِكَ تَتَبَّعِي بِهَا أثَرَالدَّمِ

“Salah seorang di antara kalian (wanita) mengambil air dan sidrahnya (daun pohon bidara, atau boleh juga digunakan pengganti sidr seperti: sabun dan semacamnya-pent) kemudian dia bersuci dan membaguskan bersucinya, kemudian dia menuangkan air di atas kepalanya lalu menggosok-gosokkannya dengan kuat sehingga air sampai pada kulit kepalanya, kemudian dia menyiramkan air ke seluruh badannya, lalu mengambil sepotong kain atau kapas yang diberi minyak wangi kasturi, kemudian dia bersuci dengannya. Maka Asma’ berkata: “Bagaimana aku bersuci dengannya?” Beliau bersabda: “Maha Suci Allah” maka ‘Aisyah berkata kepada Asma’: “Engkau mengikuti (mengusap) bekas darah (dengan kain/kapas itu).”

Dari ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha bahwa seorang wanita bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam tentang mandi dari haid. Maka beliau memerintahkannya tata cara bersuci, beliau bersabda:

تَأْخُذُ فِرْصَةً مِنْ مِسْكٍ فَتَطَهُّرُ بِهَا قَالَتْ كَيْفَ أَتَطَهُّرُ بِهَاقَالَ تَطَهَّرِي بِهَاسُبْحَانَ اللهِ.قَالَتْ عَائِشَةُ وَاجْتَذَبْتُهَا إِلَيَّ فَقُلْتُ تَتَبْعِي بِهَاأَثَرَا لدَّمِ

“Hendaklah dia mengambil sepotong kapas atau kain yang diberi minyak wangi kemudian bersucilah dengannya. Wanita itu berkata: “Bagaimana caranya aku bersuci dengannya?” Beliau bersabda: “Maha Suci Allah bersucilah!” Maka ‘Aisyah menarik wanita itu kemudian berkata: “Ikutilah (usaplah) olehmu bekas darah itu dengannya(potongan kain/kapas).” (HR. Muslim: 332)

An-Nawawi rahimahullah berkata (1/628): “Jumhur ulama berkata (bekas darah) adalah farji (kemaluan).” Beliau berkata (1/627): “Diantara sunah bagi wanita yang mandi dari haid adalah mengambil minyak wangi kemudian menuangkan pada kapas, kain atau semacamnya, lalu memasukkannya ke dalam farjinya setelah selesai mandi, hal ini disukai juga bagi wanita-wanita yang nifas karena nifas adalah haid.” (Dinukil dari Jami’ Ahkaam an-Nisaa’: 117 juz: 1).

Syaikh Mushthafa Al-’Adawy berkata: “Wajib bagi wanita untuk memastikan sampainya air ke pangkal rambutnya pada waktu mandinya dari haidh baik dengan menguraikan jalinan rambut atau tidak.Apabila air tidak dapat sampai pada pangkal rambut kecuali dengan menguraikan jalinan rambut maka dia (wanita tersebut) menguraikannya-bukan karena menguraikan jalinan rambut adalah wajib-tetapi agar air dapat sampai ke pangkal rambutnya, Wallahu A’lam.” (Dinukil dari Jami’ Ahkaam An-Nisaa’ hal: 121-122 juz: 1 cet: Daar As-Sunah).

Maka wajib bagi wanita apabila telah bersih dari haidh untuk mandi dengan membersihkan seluruh anggota badan; minimal dengan menyiramkan air ke seluruh badannya sampai ke pangkal rambutnya; dan yang lebih utama adalah dengan tata cara mandi yang terdapat dalam hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, ringkasnya sebagai berikut:

1. Wanita tersebut mengambil air dan sabunnya, kemudian berwudhu’ dan membaguskan wudhu’nya.

2. Menyiramkan air ke atas kepalanya lalu menggosok-gosokkannya dengan kuat sehingga air dapat sampai pada tempat tumbuhnya rambut. Dalam hal ini tidak wajib baginya untuk menguraikan jalinan rambut kecuali apabila dengan menguraikan jalinan akan dapat membantu sampainya air ke tempat tumbuhnya rambut (kulit kepala).

3. Menyiramkan air ke badannya.

4. Mengambil secarik kain atau kapas(atau semisalnya) lalu diberi minyak wangi kasturi atau semisalnya kemudian mengusap bekas darah (farji) dengannya.

TATA CARA MANDI JUNUB BAGI WANITA

Dari ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha, beliau berkata:

كُنَّاإِذَأَصَابَتْ إِحْدَانَاجَنَابَةٌأَخَذَتْ بِيَدَيْهَاثَلَاثًافَوْقَ رَأْسَهَا ثُمَََّ تَأْخُذُ بِيَدِهَا عَلَى شِقِّهَاالْأيَْمَنِ وَبِيَدِهَااْلأُخْرَى عََََلَى شِقِّهَااْلأ يْسَرِ

“Kami ( istri-istri Nabi) apabila salah seorang diantara kami junub, maka dia mengambil (air) dengan kedua telapak tangannya tiga kali lalu menyiramkannya di atas kepalanya, kemudian dia mengambil air dengan satu tangannya lalu menyiramkannya ke bagian tubuh kanan dan dengan tangannya yang lain ke bagian tubuh yang kiri.” (Hadits Shahih riwayat Bukhari: 277 dan Abu Dawud: 253)

Seorang wanita tidak wajib menguraikan (melepaskan) jalinan rambutnya ketika mandi karena junub, berdasarkan hadits berikut:

Dari Ummu Salamah Radhiyallahu ‘Anha berkata:

قُاْتُ ياَرَسُولَ اللهِ إِنِّي امْرَأَةٌ أَشُدُّ ضَفْرَرَأْسِي أَفَأَنْقُضُهُ لِغُسْلِ الْجَنَابَةِ؟ قَالَ:لاَإِنَّمَايَكْفِيْكِ أَنْ تَحْثِيْنَ عَلَى رَأْسِكِ ثَلاَثَ حَثَيَاتٍ مِنْ مَاءٍثُمََّ تُفِيْضِيْنَ عَلَى سَائِرِ جَسَادِكِ الماَءَ فَتَطْهُرِيْن

Aku (Ummu Salamah) berkata: “Wahai Rasulullah, aku adalah seorang wanita, aku menguatkan jalinan rambutku, maka apakah aku harus menguraikannya untuk mandi karena junub?” Beliau bersabda: “Tidak, cukup bagimu menuangkan air ke atas kepalamu tiga kali kemudian engkau mengguyurkan air ke badanmu, kemudian engkau bersuci.” (Hadits Shahih riwayat Muslim, Abu Dawud: 251, an-Nasaai: 1/131, Tirmidzi:1/176, hadits: 105 dan dia berkata: “Hadits Hasan shahih,” Ibnu Majah: 603)

Ringkasan tentang mandi junub bagi wanita adalah:

1. Seorang wanita mengambil airnya, kemudian berwudhu dan membaguskan wudhu’nya (dimulai dengan bagian yang kanan).

2. Menyiramkan air ke atas kepalanya tiga kali.

3. Menggosok-gosok kepalanya sehingga air sampai pada pangkal rambutnya.

4. Mengguyurkan air ke badan dimulai dengan bagian yang kanan kemudian bagian yang kiri.

5. Tidak wajib membuka jalinan rambut ketika mandi.

Tata cara mandi yang disebutkan itu tidaklah wajib, akan tetapi disukai karena diambil dari sejumlah hadits-hadits Rasululllah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Apabila dia mengurangi tata cara mandi sebagaimana yang disebutkan, dengan syarat air mengenai (menyirami) seluruh badannya, maka hal itu telah mencukupinya. Wallahu A’lam bish-shawab.

Copyright © Juni 2010, Allah Kuasa Makhluk Tak Kuasa

• Apabila seorang muslim mau berwudhu, maka hendaknya ia berniat di dalam hatinya, kemudian membaca “Bismillahirrahmanirrahim,” sebab Rasulullah SAW bersabda, “Tidak sah wudhu orang yang tidak menyebut nama Allah” (Diriwayatkan oleh Imam Ahmad, dan dinilai hasan oleh Al-Albani di dalam kitab Al-Irwa’). Dan apabila ia lupa, maka tidaklah mengapa. Jika hanya mengucapkan “Bismillah” saja, maka dianggap cukup.

• Kemudian disunnahkan mencuci kedua telapak tangannya sebanyak tiga kali sebelum memulai wudhu.

• Kemudian berkumur-kumur (memasukkan air ke mulut lalu memutarnya di dalam dan kemudian membuangnya).

• Lalu menghirup air dengan hidung (mengisap air dengan hidung) lalu mengeluarkannya.

• Disunnahkan ketika menghirup air di lakukan dengan kuat, kecuali jika dalam keadaan berpuasa maka ia tidak mengeraskannya, karena dikhawatirkan air masuk ke dalam tenggorokan. Rasulullah bersabda, “Keraskanlah di dalam menghirup air dengan hidung, kecuali jika kamu sedang berpuasa.” (Riwayat Abu Daud dan dishahihkan oleh Albani dalam shahih Abu Dawud)

• Lalu mencuci muka. Batas muka adalah dari batas tumbuhnya rambut kepala bagian atas sampai dagu dan mulai dari batas telinga kanan hingga telinga kiri. Dan jika rambut yang ada pada muka tipis, maka wajib dicuci hingga pada kulit dasarnya. Tetapi jika tebal maka wajib mencuci bagian atasnya saja, namun disunnahkan mencelah-celahi rambut yang tebal tersebut. Karena Rasulullah selalu mencelah-celahi jenggotnya di saat berwudhu. (Riwayat Abu Daud dan dishahihkan oleh Al-Albani dalam Al-Irwa’)

• Kemudian mencuci kedua tangan sampai siku, karena Allah berfirman : “dan kedua tanganmu hingga siku.” (Surah Al-Ma’idah : 6).

• Kemudian mengusap kepala beserta kedua telinga satu kali, dimulai dari bagian depan kepala lalu diusapkan ke belakang kepala lalu mengembalikannya ke depan kepala. Setelah itu langsung mengusap kedua telinga dengan air yang tersisa pada tangannya.

• Lalu mencuci kedua kaki sampai kedua mata kaki, karena Allah berfirman: “dan kedua kakimu hingga dua mata kaki.” (Surah Al-Ma’idah : 6). Yang dimaksud mata kaki adalah benjolan yang ada di sebelah bawah betis. Kedua mata kaki tersebut wajib dicuci berbarengan dengan kaki. Orang yang tangan atau kakinya terpotong, maka ia mencuci bagian yang tersisa yang wajib dicuci. Dan apabila tangan atau kakinya itu terpotong semua maka cukup mencuci bagian ujungnya saja.

• Setelah selesai berwudhu mengucapkan : (Imam Muslim meriwayatkan, “Asyhadu anlaa ilaa ha illallaaha wahdahulaa syariikalahu, wa asyhadu anna muhammadan ‘abduhu warasuuluhu,” [Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya], dalam riwayat Imam Tirmidzi ada tambahan, “Allaahummaj ‘alnii minattawwaabiina waj ‘alnii minal mutatpahiriina.” [Ya, Allah, jadikanlah diriku termasuk orang-orang yang bertaubat dan jadikanlah diriku termasuk orang-orang yang membersihkan diri])

• Ketika berwudhu, wajib mencuci anggota-anggota wudhunya secara berurutan, tidak menunda pencucian salah satunya hingga yang sebelumnya kering. Hal ini berdasar hadits yang diriwayatkan Ibn Umar, Zaid bin Sabit dan Abu Hurairah, bahwa Nabi senantiasa berwudu secara berurutan, kemudian beliau bersabda, “Inilah cara berwudu di mana Allah tidak akan menerima shalat seseorang, kecuali dengan wudu seperti ini.” (Catatan: Sementara, ulama Hanafi dan Maliki berpendapat bahwa berwudu secara berurutan hukumnya sunnah, atas dasar hadits riwayat Ibn Abbas, “Nabi berwudu, maka ia membasuh muka dan kedua belah tangannya, lalu kedua kakinya, kemudian barulah ia menyapu kepalanya dengan sisa air wudunya.”).

• Boleh mengelap anggota-anggota wudhu seusai berwudhu.

Sunnah Wudhu:

1. Disunnatkan bagi setiap muslim menggosok gigi (bersiwak) sebelum memulai wudhunya, karena Rasulullah bersabda, “Sekiranya aku tidak memberatkan umatku, niscaya aku perintah mere-ka bersiwak (menggosok gigi) setiap kali akan berwudhu.” [Riwayat Ahmad dan dishahihkan oleh Al-Albani dalam Al-Irwa’].

2. Disunnatkan pula mencuci kedua telapak tangan tiga kali sebelum berwudhu, sebagaimana disebutkan di atas, kecuali jika setelah bangun tidur, maka hukumnya wajib mencucinya tiga kali sebelum berwudhu. Sebab, boleh jadi kedua tangannya telah menyentuh kotoran di waktu tidurnya sedangkan ia tidak merasakannya. Rasulullah bersabda, “Apabila seorang di antara kamu bangun tidur, maka hendaknya tidak mencelupkan kedua tangannya di dalam bejana air sebelum mencucinya terlebih dahulu tiga kali, karena sesungguhnya ia tidak mengetahui di mana tangannya berada (ketika ia tidur).” (Riwayat Muslim).

3. Disunnatkan keras di dalam meng-hirup air dengan hidung, sebagaimana dijelaskan di atas.

4. Disunnatkan bagi orang muslim mencelah-celahi jenggot jika tebal ketika membasuh muka (sebagaiman dijelaskan di muka).

5. Disunnatkan bagi orang muslim mencelah-celahi jari-jari tangan dan kaki di saat mencucinya, karena Rasulullah bersabda, “Celah-celahilah jari-jemari kamu.” (Riwayat Abu Daud dan dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Abi Dawud).

6. Mencuci anggota wudhu yang kanan terlebih dahulu sebelum mencuci anggota wudhu yang kiri. Mencuci tangan kanan terlebih dahulu kemudian tangan kiri, dan begitu pula mencuci kaki kanan sebelum mencuci kaki kiri.

7. Mencuci anggota-anggota wudhu dua atau tiga kali, namun kepala cukup diusap satu kali usapan saja.

8. Tidak berlebih-lebihan dalam pemakaian air, karena Rasulullah berwudhu dengan mencuci tiga kali, lalu bersabda, “Barangsiapa mencuci lebih (dari tiga kali) maka ia telah berbuat kesalahan dan kezhaliman.” (Riwayat Abu Daud dan dishahihkan oleh Al-Albani dalam Al-Irwa’)

Hal-hal Yang Membatalkan Wudhu:

Wudhu seorang muslim batal karena hal-hal berikut ini :

1. Keluarnya sesuatu dari qubul atau dubur, baik berupa air kecil atau- pun air besar.

2. Keluar angin dari dubur (kentut).

3. Hilang akalnya, baik karena gila, pingsan, mabuk atau karena tidur yang nyenyak hingga tidak menya-dari apa yang keluar darinya. Adapun tidur ringan yang tidak menghilangkan perasaan, maka tidak membatalkan wudhu.

4. Menyentuh kemaluan dengan tangan dengan syahwat, apakah yang disentuh tersebut kemaluannya sendiri atau milik orang lain, karena Rasulullah bersabda, “Barangsiapa yang menyentuh kemaluannya hendaklah ia berwudhu.”(Riwayat Ibnu Majah dan dishahihkan oleh Al-Albani).

5. Memakan daging unta, karena ketika Rasulullah ditanya: “Apakah kami harus berwudhu karena makan daging unta? Nabi menjawab : Ya.” (Riwayat Muslim). Begitu pula memakan usus, hati, babat atau sumsumnya adalah membatalkan wudhu, karena hal tersebut sama dengan dagingnya. Adapun air susu unta tidak membatalkan wudhu, karena Rasulullah SAW pernah menyuruh suatu kaum minum air susu unta dan tidak menyuruh mereka berwudlu sesudahnya (Muttafaq ‘alaih). Untuk lebih berhati-hati, maka sebaiknya berwudhu sesudah minum atau makan kuah daging unta.

Hal-hal yang haram dilakukan oleh yang tidak berwudhu:

Apabila seorang muslim berhadats kecil (tidak berwudhu), maka haram melakukan hal-hal berikut ini:

1. Mengerjakan shalat. Orang yang berhadats tidak boleh melakukan shalat kecuali setelah berwudhu terlebih dahulu, karena Rasulullah bersabda, “Allah tidak menerima shalat yang dilakukan tanpa wudhu.” (Riwayat Muslim). Boleh bagi orang yang tidak berwudhu melakukan sujud tilawah atau sujud syukur, karena keduanya bukan merupakan shalat, sekalipun lebih afdhalnya adalah berwudhu sebelum melakukan sujud.

2. Melakukan thawaf. Orang yang berhadats kecil tidak boleh melakukan thawaf di Ka`bah sebelum berwudhu, karena Rasulullah telah bersabda, “Thawaf di Baitullah itu adalah shalat.” (Riwayat Turmudzi dan dinilai shahih oleh Al-Albani dalam Al-Irwa’). Dan juga karena Nabi berwudhu terlebih dahulu sebelaum melakukan thawaf (Muttafaq ‘alaih).

Catatan Penting:

Untuk berwudhu tidak disyaratkan mencuci qubul atau dubur terlebih dahulu, karena pencucian keduanya dilakukan sehabis buaang air, dan hal tersebut tidak ada hubungannya dengan wudhu.

Wallahu a’lam, wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi washahbihi wa sallam.

Referensi:

1. Al-Qur’an Al-Karim dan Al-Hadits Kutubus-Sittah.

2. Diadaptasi dari “Tuntunan Shalat Menurut Al-Qur’an & As-Sunnah,” Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al-Jibrin.

3. Al-Adzkaarun Nawawiyyah, Muhyiddin Abi Zakaria bin Syaraf An-Nawawi.

4. Fiqhus-Sunnah, Sayyid Sabiq.

5. Shalat Empat Mazhab, ‘Abdul Qadir Ar-Rahbawi.

Copyright © Juni 2010, Allah Kuasa Makhluk Tak Kuasa

1. Allah ta’ala berfirman,

“Dan pakaianmu, bersihkanlah!” (Al-Muddatstsir: 4)

2. Dari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha berkata, “Pakaian yang dicintai oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah gamis .” (HR. At-Tirmidzi dan beliau menghasankannya)

(gamis: baju panjang yang sampai setengah betis)

3. Dari Ibnu Umar bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

“Allah tidak melihat pada hari kiamat orang yang memanjangkan pakaiannya karena sombong.” (Muttafaqun ‘alaihi)

4. Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

“Apa yang di bawah mata kaki berupa kain (sarung), tempatnya dalam neraka.” (HR. Al-Bukhari)

5. Ibnu Umar berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjulurkan imamahnya di antara kedua pundaknya.” (HR. At-Tirmidzi dan beliau menghasankannya)

6. Dari Salim, dari bapaknya, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

“Isbal terdapat pada izar (sarung) dan imamah. Barangsiapa yang memanjangkan karena sombong, Allah tidak akan melihatnya pada hari kiamat.” (HR. Abu Dawud dan An-Nasa’i, dishahihkan oleh Al-Albani)

7. Abu Sa’id Al-Khudri mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

“Pakaian seorang mukmin sampai setengah betisnya, dan tidak mengapa yang demikian di antara betis dan mata kaki, dan apa yang di bawah mata kaki maka tempatnya adalah di Neraka.”

Beliau menyatakan yang demikian tiga kali, kemudian beliau melanjutkan,

“Dan Allah tidak melihat pada hari kiamat terhadap orang yang memanjangkan pakaiannya karena sombong.” (HR. Ibnu Majah dan Abu Dawud dan dishahihkan oleh Al-Albani)

8. Abdullah bin Umar berkata, “Aku melewati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan pakaianku melorot, maka beliau bersabda,

‘Wahai Abdullah, naikkan pakaianmu!’, maka aku pun menaikkannya, ‘Angkat lagi’, aku pun menaikkannya lagi. Setelah itu, aku pun senantiasa menjaganya.”

Sebagian orang bertanya kepada beliau, “Sampai batasan mana?” Beliau menjawab, “Sampai setengah betis.” (HR. Muslim)

9. Dari Samurah bin Jundub, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

“Kenakanlah pakaian putih karena lebih suci dan lebih indah, dan kafanilah mayat-mayat kalian dengan kain putih .” (HR. Ahmad dan selainnya. Sanadnya shahih)

10. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

“Barangsiapa yang memakai pakaian kemasyhuran di dunia, Allah akan memakaikan pakaian kehinaan di akhirat.” (HR. Ahmad dan dihasankan oleh Al-Albani)

11. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

“Makan dan minumlah kalian serta bershadaqah dan berpakaianlah, tanpa berlebihan dan tidak sombong.” (HR. Ahmad, shahih)

KESIMPULAN

1. An-Nawawi menyimpulkan dari hadits-hadits tentang pakaian:

Isbal terdapat pada sarung, gamis, imamah, dan baju. Dan tidak boleh isbal di bawah mata kaki, jika untuk kesombongan. Apabila untuk tujuan selain itu maka makruh, dan sunnahnya sampai setengah betis. Boleh dan tidak makruh jika sampai dua mata kaki. Adapun di bawah mata kaki, maka tidak boleh/terlarang.

2. Ibnu Hajar telah menyebutkan pendapat beliau dalam kitabnya Fathul Baari bahwa tidak boleh berpakaian hingga menutup mata kaki. Beliau menuturkan bahwa Al-Qadhi ‘Iyad telah menukilkan ijma’ tentang larangan bagi kaum lelaki –tidak berlaku untuk para wanita– untuk memanjangkan pakaian mereka di bawah mata kaki.

Kemudian Ibnu Hajar berkata, “Kesimpulannya bahwa pada laki-laki ada dua keadaan:

· Disunnahkan, yaitu memendekkan pakaian sampai setengah betis.

· Diperbolehkan, yaitu sampai kedua mata kaki.

Dan dipahami dari ucapannya bahwa memanjangkan pakaian, seperti baju, sirwal dan celana, di bawah kedua mata kaki adalah tidak diperbolehkan.

3. Dari Abdullah bin Umar, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melihat padanya ada dua baju yang dicelup dengan celupan kuning [1].

Maka beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

“Sesungguhnya ini termasuk pakaian orang-orang kafir, janganlah kamu pakai keduanya.” (HR. Muslim)

Faedah Hadits

1. Tidak boleh bagi seorang muslim untuk mengenakan pakaian orang-orang kafir karena termasuk menyerupai pakaian mereka. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk dari kaum tersebut.” (HR. Abu Dawud dan shahih)

Dan telah tersebar di kebanyakan negeri-negeri Islam sikap menyerupai dengan orang-orang kafir, seperti memakai celana sempit yang mereka namakan celana cowboy, sirliston, dan selainnya. Dan aku mendengar jawaban salah seorang ulama, ketika ditanya tentang celana yang sempit, dengan menyatakan bahwa hal itu adalah aib. Ulama tersebut menjawab, “Haram, karena membentuk aurat dan padanya ada sikap menyerupai dengan orang-orang kafir.”

2. Adapun penutup kepala (seperti peci dan lain-lain) merupakan syi’ar dari umat ini. Akan tetapi, sebagian kaum muslimin mereka memakai topi dan telah diwajibkan bagi tentara-tentara untuk memakai topi, yang itu merupakan pakaian orang-orang kafir. Sebagian orang-orang kaya dan sebagian para pegawai juga memakainya dengan alasan untuk menutup kepala dari panas matahari.

Kalaulah mereka menutup kepala dengan peci, imamah atau sapu tangan, niscaya ini lebih baik bagi kepala-kepala mereka dan jauh dari tasyabbuh dengan orang-orang kafir. Disebabkan telah tersebarnya sikap meniru orang kafir sehingga manusia tidak menyadari bahwa hal ini telah menyelisihi syariat. Innaa lillahi wa innaa ilaihi raajiun. Lalu bagaimana kita akan memerangi orang-orang kafir, sedangkan kita menyerupai pakaian-pakaian dan kebiasaan mereka ??!!

Kita diperbolehkan meniru mereka dalam perkara-perkara yang bermanfaat, seperti pembuatan pesawat, kendaraan-kendaraan, alat perang dan selainnya, dari perkara-perkara yang akan membantu untuk mempertahankan agama dan wilayah kita.(ulamasunnah.wp)

Copyright © Juni 2010, Allah Kuasa Makhluk Tak Kuasa

SEJARAH MISWAK

Miswak yakni ranting kayu yang digunakan untuk menggosok dan mencuci gigi telah digunakan lama sebelum zaman Nabi Muhammad S.A.W.

Akar kayu sugi yang digunakan untuk membersihkan gigi dan mulut bukan sahaja mengandungi zat anti-microbe (anti kuman), malah dapat menentang penyakit anaemia. Selain daripada memberikan kesihatan kepada mulut, ia turut mendatangkan kesukaan kepada Yang Maha Pencipta. Allah SWT telah menjanjikan balasan berganda bagi sesiapa yang bermiswak dalam beribadah. Sesungguhnya rugilah orang-orang yang mengabaikan penggunaan miswak.

Dalam hadis-hadis yang diriwayatkan menunjukkan bahawa miswak adalah sunnah atau amalan semua nabi-nabi Allah ‘Alaihissalam.

Abu Ayub R.Anhu meriwayatkan bahawa Rasulullah S.A.W telah bersabda ” Empat perkara di antara sunnah-sunnah Para Ambia’ adalah berkhitan,memakai ‘athar(wangi-wangian),miswak dan bernikah.”

(HR Ahmad dan Tirmidzi)

FADHILAT MISWAK

1.Menghilangkan bau busuk dan memperbaiki deria rasa.

Allamah Ibn Dariq Rahmatullah’Alaih berakata,”Kebaikan yang terkandung di dalam penggunaan miswak selepas bangun dari tidur ialah ketika tidur wap busuk naik daripada perut ke arah mulut.Hal ini mengakibatkan bau busuk di dalam mulut dan juga berubahnya deria rasa atau kecekapan.Penggunaan

miswak akan menghilangkan bau busuk tersebut dan memperbaiki perubahan yang berlaku kepada deria rasa tersebut.

2.Mempertajamkan ingatan.

Hadrat Ali R.’Anhu berkata bahawa:”Miswak mempertajamkan ingatan.”

3.Mempertajamkan kecerdasan.

Empat perkara yang menambahkan kecerdasan iaitu meninggalkan percakapan sia-sia,menggunakan miswak,duduk di dalam majlis orang-orangsoleh dan duduk di dalam majlis ulama’-ulama’. (Thibbi Nabawi)

4.Menghilangkan balgham(kahak).

Hadrat Ali R.’Anhu berkata bahawa:”Miswak menghapuskan balgham.”

(Ihya-ul-‘Ulum)

5.Menyembuhkan penyakit.

Hadrat ‘Aisyah R.’Anha berkata bahawa:”Miswak (penggunaan secara tetap) adalah menyembuhkan penyakit kecuali mati.”

(Dilaporkan oleh Dailami di dalam Firdaus)

6.Miswak mewangikan mulut.

7.Miswak memperkuatkan gusi.

8.Miswak menahan gigi daripada reput.

9.Miswak menahan kerosakan gigi yang lebih kritikal akibat kereputan yang telah ada pada gigi.

10.Miswak menyembuhkan sakit kepala.

11.Miswak menolong menghilangkan sakit gigi.

12.Miswak memberikan nur (cahaya) pada wajah orang yang selalu menggunakannya.

13.Miswak mencahayakan gigi.

14.Miswak menghilangkan kekuningan pada gigi.

15.Miswak memperkuatkan penglihatan.

16.Miswak menolong menghadamkan makanan di dalam badan.

17.Miswak melawaskan suara.

18.Miswak memudahkan selera.

19.Miswak menambahkan kelancaran percakapan.

Abu Hurairah R.’Anhu berkata bahawa:”Miswak menambahkan kelancaran percakapan seseorang.”

(Al-Jaami’)

20.Miswak memudahkan selera makan. (Thibbi Nabawi)

21.Miswak menambahkan kelancaran percakapan.

Abu Hurairah R.’Anhu berkata bahawa: “Miswak menambahkan kelancaran percakapan seseorang.”

(Al-Jami’)

22.”Menggunakan miswak menjadikan satu asbab memudahkan kesukaran maut. Selalu menggunakannya akan memudahkan roh keluar daripada jasad apabila waktu yang ditetapkan itu tiba.”

(Syarhus-Sudur)

23. Syaitan sangat benci orang yang menggunakan miswak.

Copyright © Juni 2010, Allah Kuasa Makhluk Tak Kuasa

Ya Allah….kami mohon kepada-Mu dalam perjalanan ini kebaikan,

ketakwaan dan amal yang Engkau ridloi.

Ya Allah…. mudahkanlah perjalanan ini dan dekatkanlah kejauhannya dari kami.

Ya Allah… Engkaulah teman dalam perjalanan dan wakil dalam keluarga.

Ya Allah…. aku berlindung kepada-Mu dari keletihan dalam perjalanan,

murung dalam pandangan dan akibat yang buruk dalam harta dan keluarga.

Amiin Yaa Robbal Alamiin…

Adab Perjalanan :

1. Shalat safar 2 rakaat

2. Do`a memakai sandal / sepatu / kasut

اَللَّهُمَّ اِنِّى اَعُوْذُبِكَ مِنَ اْلاِبْلِسِ وَالْجُنُدِهِ

Artinya : “ Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari Iblis dan bala tentaranya. “

3. Tidak memakai hiasan dan wangi-wangian

4. Do`a keluar rumah :

بِسْمِ اللهِ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللهِ لاَحَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ اِلاَّ بِـاللهِ

5. Saat naik kendaraan langkahkan kaki kanan denagan membaca : بِسْمِ اللهِ , setelah duduk bacalah اَلْحَمْدُ ِاللهِ , bila kendaraan mulai berjalan maka baca :

سُبْحَـانَ الَّذِى سَخَّرَ لَنَـا هَذَا وَمَـا كُنَّـا لَهُ مُقْرِنِيْنَ وَ اِنَّـا اِلَى رَبِّنَـا لَمُنْقَلِبُــوْنَ

6. Jika perjalanan naik / tanjakan baca : اَللهُ اَكْبَـرُ

Jika perjalanan turun, baca : سُبْحَـانَ اللهُ

Jika perjalanan mendatar, baca : اَلْحَمْدُ ِللهِ

Jika jalan berliku-liku, baca : لاَ حَوْلَ وَلاَقُوَّةَ اِلاَّ بِـاللهِ

Jika melewati jembatan, baca : اَلَّهُمَّ يَلِّمْ وَسَلِّمُ

Jika melihat masjid, baca اَللَّهُمَّ صَلِّى عَلَى مُحَمَّدٍ

Jika melihat tempat ibadah bukan Islam, baca : لاَاِلَهَ اِلاَّ اللهُ لاَمَعْبُدْ اِلاَّ اللهُ

Jika melihat wanita bukan muhrim, baca : اَللَّهُمَّ اِنِّى اَعُوْذُبِكَ مِنْ فِتْنَـةِ النِّسَـاءِ

Jika melihat kebesaran dunia, baca :

اَللَّهُمَّ اِنِّى اَعُوْذُبِكَ مِنْ فِتْنَةِ الدُّنْيَـا وَمِنْ عَذَابِ ا ْلاَخِرَةِ

7. Jika melihat kampung, baca : اَللَّهُمَّ بَـارِكْ لَنَـا فِيْـهَـا

اَللَّهُمَّ ارْزُقْنَـا جَنَـاهَـا وَحَبِبْنَـا اِلَى اَهْلِهَـا وَحَبِبْ صَـالِحِى اَهْلِهَـا اِلَيْنَـا.

8. Berhenti di tengah jalan atau penginapan, baca :

اَعُوْذُبِكَلِمَـاتِ اللهِ التَّـامَّـاتِ مِنْ سَرِّمَـا خَلَقَ

9. Turun dari kendaraan, baca : رَبِّ اَنْزِلْنِى مُنْزَلاً مُبَـارَكًا وَاَنَـا خَيْرُالْمُنْزِلِيْنَ.

10. Bila melihat kota, baca :

لاَاِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ, لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ يُحْيِى وَيُمِيْتُ وَهُوَ حَيُّ دَاءِمٌ لاَ يَمُوْتُ

بِيَدِهِ الْخَيْرِ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ.

Fadhilahnya :

Dapat 1000 kebaikan
Hapuskan 1000 dosa dan kejahatan
Diangkat 1000 derjat dalam surga.

11. Do`a naik kendaran laut, baca : بِسْمِ اللهِ مَـجْرَهَـا وَمُرْسَهَـا اِنَّ رَبِّى لَغَفُوْرٌرَّحِيْـمٌ

وَمَـا قَدَرُوْالله َ حَقَّ قَدْرِهِ وَاْلاَرْضِ جَمِـيعًـا قَبْضَتُهُ يَوْمَ الْقِيَـامَـةِ وَالسَّمَوَتِ عَطْوِيَـاتِ بِيَمِنِهِ

سُبْحَـا نَـهُ وَتَعَـالَى عَمَّـا يُشْرِكُوْنَ .

12. Do`a masuk rumah : اَللَّهُمَّ اِنِّى اَسْـأَََلُكَ خَيْرَ الْمَوْلُجِ وَخَيْرَ الْمَخْرَجِ.

Copyright © Juni 2010, Allah Kuasa Makhluk Tak Kuasa

ALLAH SWT adalah Dzat yg selalu menyertai kita dimanapun kita berada,dirumah,dalam perjalanan,ketiika terjaga & juga tiidur,ketika hidup maupun setelah meninggal; DIA ( ALLAH ) selalu mengawasi gerak gerik kita, mendengarkan bisikan & permohonan kita.

untuk lebih mengenal ALLAH SWT, sehingga tidak ada yg kita cintai selain ALLAH, tidak ada yg kita takuti selain ALLAH, tidak yg kita miontai kecuali ALLAH & tidak ada yg kita maksud (tuju) kecuali ALLAH maka perlunya kita mengetahu adab2 kita kepada ALLAH kemudian mengamalkan & menjaganya setiap hari & setiap saat diantaranya :

1. Menundukan wajah / muka & menjaga pandangan

2 .Meluruskan tujuan & bersandar hanya kpd ALLAH dalam setiap amalan

3 .Bersikap tenang & banyak diam dari perkataan yang sia-sia

4. Cepat-cepat didalam melaksanakan perintah & menjauhi larangan agama

5. Tidak menentang dalam perkara yang telah diputuskan ALLAH ( Qodar ) walaupun kita tdk m

menyukainya

6. Berusaha selalu mengingat ALLAH & memikirkan keagungannya

7. Berusaha membela yang haq & menentang yang batil

8. Memutuskan rasa thoma'( pengharapan ) kepada mahkluk

9. Tawadhu’ ( rendah hati ) semata-mata karena takut kepada ALLAH

10.Tidak condong & terlau percaya kepada usaha2 keduniaan se-mata2 hanya karena yakin &

percayan kepada jaminan ALLAH dalam masalah rezekinya

11.Selalu menghadirkan perasaan takut karena belum bisa menunaikan hak- hak ALLAH secara

sempurna

Dalam beramal, adab2 atau tertib beramal tidak kalah pentingnya untuk diperhatikan, karena amalan yang baik kalau tidak dikerjakan dengan adab / tertib yang betul, maka amalan tsb akan rusak & tidak ada faedahnya.

Karenanya catatan diatas mengajak kepada kita semua untuk menjaga adab / tertib dalam beramal sehingga apa yang telah ALLAH berikan kepada orang2 terdahulu akan ALLAH berikan juga kepada kita semua….Aaamiiin……

Disalin dari kitab risalah ilmu & tertib pleh : TIM Bahsul Masail pon-pes AL – FATAH ,Temboro – Magetan.

Copyright © Juni 2010, Allah Kuasa Makhluk Tak Kuasa

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.