Category: Mudzakaroh


Dari KH Mukhlisun

ponpes Sirojulmukhlisin, Payaman – Magelang Jawa tengah, Indonesia

(madzab syafei, sunni, keturunan sunan kalijaga)

Wasiat sunan kalijaga dalam kitabnya :

“Yen wis tibo titiwancine kali-kali ilang kedunge, pasar ilang kumandange, wong wadon ilang wirange mangka enggal – enggala tapa lelana njlajah desa milang kori patang sasi aja ngasik balik yen during olih pituduh (hidayah) saka gisti Allah”

Artinya kurang lebih :

“jika sudah tiba zamannya dimana sungai2 hilang kedalamannya (banyak org yg berilmu yg tdk amalkan ilmunya), pasar hilang gaungnya (pasar org beriman adalah masjid, jika masjid2 tak ada adzan, wanita2 hilang malunya (tdk tutup aurat dsb) maka cepat2lah kalian keluar 4 bulan dari desa ke desa (dari kampong ke kampong) dari pintu ke pintu (dari rumah ke rumah utk dakwah) jgnlah pulang sebelum mendapat hidayah dr Allah swt”

Kalau kita buat dakwah berpegang dgn azas dakwah ini maka dakwah kita akan mirip dgn dakwah nabi dan sahabat shg akan menjadi asbab hidayah keseluruh alam

Azas dakwah walisongo ada 10 :

1. sugih tanpa banda (kaya tanpa hanya)

artinya : jgn yakin pada harta….kebagahiaan dlm agama, dakwah jgn bergantung dgn harta

1. ngluruk tanpa bala (menyerbu tanpa banyak orang/tentara)

artinya : jgn yakin dgn banyaknya jumlah kita,…..yakin dgn pertolongan Allah

1. menang tanpa ngasorake (menang/unggul tanpa merendahkan orang)

artinya : dakwah jgn menganggap hina musuh2 kita….kita pasti unggul tapi jgn merendahkan org lain (jgn sombong)

1. mulya tanpa punggawa (mulia tanpa anak buah)

artinya : kemuliaan hanya dalam iman dan amalan agama bkn dgn bnyknya pengikut

1. mletik tanpa sutang (melompat jauh tanpa tanpa galah/tongkat panjang)

artinya : niat utk dakwah keseluruh alam, Allah yg berangkatkan kita bukan asbab2 dunia spt harta dsb…

1. mabur tanpa lar (terbang tanpa sayap)

artinya : kita bergerak jumpa umat…dari orang2 ke orang…. jumpa ke rumah2 mereka ..

7. digdaya tanpa aji-aji (sakti tanpa ilmu2 kedigdayaan)

Artinya : kita dakwah, Allah akan Bantu (jika kalian Bantu agama Allah, maka pasti Allah akan tolong kalian dan Allah akan menangkan kalian)

1. Menang tanpa tanding (menang tanpa berperang)

Artinya : dakwah dgn hikmah, kata2 yg sopan, ahlaq yg mulia dan doa menangis2 pada Allah agar umat yg kita jumpai dan umat seluruh alam dapat hidayah….bukan dgn kekerasan….

nabi saw bersabda yg maknanya kurang lebih : ‘Haram memerangi suatu kaum sebelum kalian berdakwah (berdakwah dgn hikmah) kpd mereka”

9. kuncara tanpa wara-wara (menyebar/terkenal tanpa gembar-gembor/iklan2 dsb)

Artinya : bergerak terus jumpa umat, tdk perlu disiar2kan atau di umum2kan

10 kalimasada senjatane ( senjatanya kalimat iman (syahadat))

Artinya : selalu mendakwahkan kalimat iman, mengajak umat pada iman dan amal salih….

Copyright © Juni 2010, Allah Kuasa Makhluk Tak Kuasa

Nasehat-Nasehat Para Ulama Salaf

Kewajiban Mengikuti Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam

Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu berkata:

“Sederhana dalam As-Sunnah lebih baik daripada bersungguh-sungguh di dalam bid’ah.” (Ibnu Nashr, 30, Al-Lalikai 1/88 no. 114, dan Al-Ibanah 1/320 no. 161)

Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma berkata:

“Tetaplah kamu beristiqamah dan berpegang dengan atsar serta jauhilah bid’ah.” (Al-I’tisham, 1/112)

Al-Imam Az-Zuhri rahimahullah berkata:

Ulama kita yang terdahulu selalu mengatakan: “Berpegang dengan As-Sunnah adalah keselamatan. Ilmu itu tercabut dengan segera, maka tegaknya ilmu adalah kekokohan Islam sedangkan dengan perginya para ulama akan hilang pula semua itu (ilmu dan agama).” (Al-Lalikai 1/94 no. 136 dan Ad-Darimi, 1/58 no. 16)

Al-Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah berkata:

“Berhati-hatilah kamu, jangan sampai menulis masalah apapun dari ahli ahwa’, sedikit atau pun banyak. Berpeganglah dengan Ahlul Atsar dan Ahlus Sunnah.” (As-Siyar, 11/231)

Al-Imam Al-Auza’i rahimahullah berkata:

“Berpeganglah dengan atsar Salafus Shalih meskipun seluruh manusia menolakmu dan jauhilah pendapat orang-orang (selain mereka) meskipun mereka menghiasi perkataannya terhadapmu.” (Asy-Syari’ah hal. 63)

(Lammuddurril Mantsur minal Qaulil Ma`tsur, karya Abu Abdillah Jamal bin Furaihan Al-Haritsi)

Introspeksi Diri

Al-Imam Al-Hasan Al-Bashri berkata:

“Sesungguhnya seorang mukmin adalah penanggung jawab atas dirinya, (karenanya hendaknya ia senantiasa) mengintrospeksi diri kerena Allah Subhanahu wa ta’ala semata.”

“Adalah hisab (perhitungan amal) di Yaumul Qiyamah nanti akan terasa lebih ringan bagi suatu kaum yang (terbiasa) mengintrospeksi diri mereka selama masih di dunia, dan sungguh hisab tersebut akan menjadi perkara yang sangat memberatkan bagi kaum yang menjadikan masalah ini sebagai sesuatu yang tidak diperhitungkan.”

“Sesungguhnya seorang mukmin (apabila) dikejutkan oleh sesuatu yang dikaguminya maka dia pun berbisik: ‘Demi Allah, sungguh aku benar-benar sangat menginginkanmu, dan sungguh kamulah yang sangat aku butuhkan. Akan tetapi demi Allah, tiada (alasan syar’i) yang dapat menyampaikanku kepadamu, maka menjauhlah dariku sejauh-jauhnya. Ada yang menghalangi antara aku denganmu’.”

“Dan (jika) tanpa sengaja dia melakukan sesuatu yang melampaui batas, segera dia kembalikan pada dirinya sendiri sembari berucap: ‘Apa yang aku maukan dengan ini semua, ada apa denganku dan dengan ini? Demi Allah, tidak ada udzur (alasan) bagiku untuk melakukannya, dan demi Allah aku tidak akan mengulangi lagi selama-lamanya, insya Allah’.”

“Sesungguhnya seorang mukmin adalah suatu kaum yang berpegang erat kepada Al Qur`an dan memaksa amalan-amalannya agar sesuai dengan Al Qur`an serta berpaling dari (hal-hal) yang dapat membinasakan diri mereka.”

“Sesungguhnya seorang mukmin di dunia ini bagaikan tawanan yang (selalu) berusaha untuk terlepas dari perbudakan. Dia tidak pernah merasa aman dari sesuatupun hingga dia menghadap Allah, karena dia mengetahui bahwa dirinya akan dimintai pertanggungjawaban atas semua itu.”

“Seorang hamba akan senantiasa dalam kebaikan selama dia memiliki penasehat dari dalam dirinya sendiri. Dan mengintrospeksi diri merupakan perkara yang paling diutamakan.”

(Mawa’izh Lil Imam Al-Hasan Al-Bashri, hal. 39, 40, 41)

Cinta Dunia Merupakan Dosa Besar

Al-Imam Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata:

“Tidaklah aku merasa heran terhadap sesuatu seperti keherananku atas orang yang tidak menganggap cinta dunia sebagai bagian dari dosa besar.

Demi Allah! Sungguh, mencintainya benar-benar termasuk dosa yang terbesar. Dan tidaklah dosa-dosa menjadi bercabang-cabang melainkan karena cinta dunia. Bukankah sebab disembahnya patung-patung serta dimaksiatinya Ar-Rahman tak lain karena cinta dunia dan lebih mengutamakannya? (Mawa’izh Al-Imam Al-Hasan Al-Bashri, hal. 138)

Al-Imam Sufyan Ats-Tsauri rahimahullahu berkata:

“Telah sampai kepadaku bahwasanya akan datang satu masa kepada umat manusia di mana pada masa itu hati-hati manusia dipenuhi oleh kecintaan terhadap dunia, sehingga hati-hati tersebut tidak dapat dimasuki rasa takut terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Dan itu dapat engkau ketahui apabila engkau memenuhi sebuah kantong kulit dengan sesuatu hingga penuh, kemudian engkau bermaksud memasukkan barang lain ke dalamnya namun engkau tidak mendapati tempat untuknya.”

Beliau rahimahullahu berkata pula:

“Sungguh aku benar-benar dapat mengenali kecintaan seseorang terhadap dunia dari (cara) penghormatannya kepada ahli dunia.”

(Mawa’izh Al-Imam Sufyan Ats-Tsauri, hal. 120)

Kejelekan-kejelekan Harta

Al-Imam Sufyan Ats-Tsauri rahimahullahu berkata:

‘Isa bin Maryam ‘alaihissalam bersabda: “Cinta dunia adalah pangkal segala kesalahan, dan pada harta terdapat penyakit yang sangat banyak.”

Beliau ditanya: “Wahai ruh (ciptaan) Allah, apa penyakit-penyakitnya?”

Beliau menjawab: “Tidak ditunaikan haknya.”

Mereka menukas: “Jika haknya sudah ditunaikan?”

Beliau menjawab: “Tidak selamat dari membanggakannya dan menyombongkannya.”

Mereka menimpali: “Jika selamat dari bangga dan sombong?”

Beliau menjawab: “Memperindah dan mempermegahnya akan menyibukkan dari dzikrullah (mengingat Allah Subhanahu wa Ta’ala).”

(Mawa’izh Al-Imam Sufyan Ats-Tsauri, hal. 81)

Beliau rahimahullahu berkata:

“Kelebihan dunia adalah kekejian di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala pada hari kiamat.”

Beliau ditanya: “Apa yang dimaksud dengan kelebihan dunia?”

Beliau menjawab: “Yakni engkau memiliki kelebihan pakaian sedangkan saudaramu telanjang; dan engkau memiliki kelebihan sepatu sementara saudaramu tidak memiliki alas kaki.”

(Mawa’izh Al-Imam Sufyan Ats-Tsauri, hal. 76)

Sabar Saat Mendapat Musibah

Al-Imam Al-Hasan Al-Bashri rahimahullahu berkata:

“Kebaikan yang tiada kejelekan padanya adalah bersyukur ketika sehat wal afiat, serta bersabar ketika diuji dengan musibah. Betapa banyak manusia yang dianugerahi berbagai kenikmatan namun tiada mensyukurinya. Dan betapa banyak manusia yang ditimpa suatu musibah akan tetapi tidak bersabar atasnya.” (Mawa’izh Al-Imam Al-Hasan Al-Bashri, hal. 158)

Beliau rahimahullahu juga berkata:

“Tidaklah seorang hamba menahan sesuatu yang lebih besar daripada menahan al-hilm (kesantunan) di kala marah dan menahan kesabaran ketika ditimpa musibah.” (Mawa’izh Al-Imam Al-Hasan Al-Bashri, hal. 62)

Al-Imam Sufyan Ats-Tsauri rahimahullahu berkata:

“Tiga perkara yang merupakan bagian dari kesabaran; engkau tidak menceritakan musibah yang tengah menimpamu, tidak pula sakit yang engkau derita, serta tidak merekomendasikan dirimu sendiri.” (Mawa’izh Al-Imam Sufyan Ats-Tsauri, hal. 81)

Beragam Tujuan dalam Menuntut Ilmu

Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata:

“Janganlah kalian mempelajari ilmu karena tiga hal: (1) dalam rangka debat kusir dengan orang-orang bodoh, (2) untuk mendebat para ulama, atau (3) memalingkan wajah-wajah manusia ke arah kalian. Carilah apa yang ada di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan ucapan dan perbuatan kalian. Karena, sesungguhnya itulah yang kekal abadi, sedangkan yang selain itu akan hilang dan pergi.” (Jami’ul ‘Ulum wal Hikam, 1/45)

Ishaq ibnu Ath-Thiba’ rahimahullahu berkata: Aku mendengar Hammad bin Salamah rahimahullahu berkata: “Barangsiapa mencari (ilmu, -pen.) hadits untuk selain Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan membuat makar atasnya.”

Waki’ rahimahullahu berkata:

“Tidaklah kita hidup melainkan dalam suatu tutupan. Andaikata tutupan tersebut disingkap, niscaya akan memperlihatkan suatu perkara yang besar, yakni kejujuran niat.”

Al-Hafizh Adz-Dzahabi rahimahullahu berkata:

“Menuntut ilmu yang merupakan perkara yang wajib dan sunnah yang sangat ditekankan, namun terkadang menjadi sesuatu yang tercela pada sebagian orang. Seperti halnya seseorang yang menimba ilmu agar dapat berjalan bersama (disetarakan, -pen.) dengan para ulama, atau supaya dapat mendebat kusir orang-orang yang bodoh, atau untuk memalingkan mata manusia ke arahnya, atau supaya diagungkan dan dikedepankan, atau dalam rangka meraih dunia, harta, kedudukan dan jabatan yang tinggi. Ini semua merupakan salah satu dari tiga golongan manusia yang api neraka dinyalakan (sebagai balasan, -pen.) bagi mereka.”

(An-Nubadz fi Adabi Thalabil ‘Ilmi, hal. 10-11, Penulis : Al-Ustadz Zainul Arifin

Larangan Berfatwa Tanpa Bimbingan Salafush Shalih

Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullahu berkata:

“Siapa saja yang mengatakan sesuatu dengan hawa nafsunya, yang tidak ada seorang imampun yang mendahuluinya dalam permasalahan tersebut, baik Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ataupun para sahabat beliau, maka sungguh dia telah mengadakan perkara baru dalam Islam. Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda: ‘Barangsiapa yang mengada-ada atau membuat-buat perkara baru dalam Islam maka baginya laknat Allah Subhanahu wa Ta’ala, para malaikat, dan manusia seluruhnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak menerima infaq dan tebusan apapun darinya’.”

Al-Imam Ahmad rahimahullahu berkata kepada sebagian muridnya:

“Hati-hati engkau, (jangan, -pen.) mengucapkan satu masalah pun (dalam agama pen.) yang engkau tidak memiliki imam (salaf, -pen.) dalam masalah tersebut.”

Beliau rahimahullahu juga berkata dalam riwayat Al-Maimuni:

“Barangsiapa mengatakan sesuatu yang tidak ada imam atasnya, aku khawatir dia akan salah.”

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullahu berkata:

“Adapun para imam dan para ulama ahlul hadits, sungguh mereka semua mengikuti hadits yang shahih apa adanya bila hadits tersebut diamalkan oleh para sahabat, generasi sesudah mereka (tabi’in) atau sekelompok dari mereka. Adapun sesuatu yang disepakati oleh salafush shalih untuk ditinggalkan maka tidak boleh dikerjakan. Karena sesungguhnya tidaklah mereka meninggalkannya melainkan atas dasar ilmu bahwa perkara tersebut tidak (pantas, -pen.) dikerjakan.”

(An-Nubadz Fi Adabi Thalabil ‘Ilmi, hal. 113-115, Penulis : Al-Ustadz Zainul Arifin )

Sebab Hilangnya Agama

Abdullah bin Mas’ud berkata:

“Jangan ada dari kalian taklid kepada siapapun dalam perkara agama sehingga bila ia beriman (kamu) ikut beriman dan bila ia kafir (kamu) ikut pula kafir. Jika kamu ingin berteladan, ambillah contoh orang-orang yang telah mati, sebab yang masih hidup tidak aman dari fitnah”.

Abdullah bin Ad-Dailamy berkata:

“Sebab pertama hilangnya agama ini adalah ditinggalkannya As Sunnah (ajaran Nabi). Agama ini akan hilang Sunah demi Sunnah sebagaimana lepasnya tali seutas demi seutas”.

Abdullah bin ‘Athiyah berkata:

“Tidaklah suatu kaum berbuat bid’ah dalam agama kecuali Allah akan mencabut dari mereka satu Sunnah yang semisalnya. Dan Sunnah itu tidak akan kembali kepada mereka sampai hari kiamat”.

Az-Zuhri berkata:

“Ulama kami yang terdahulu selalu mengingatkan bahwa berpegang teguh dengan As-Sunnah adalah keselamatan. Ilmu akan dicabut dengan segera. Tegaknya ilmu adalah kekokohan agama dan dunia sedangkan hilangnya ilmu maka hilang pula semuanya”.

Diambil dari kitab Lammudurul Mantsur Minal Qaulil Ma’tsur yang disusun oleh Abu Abdillah Jamal bin Furaihan Al Haritsy.

Lakukanlah Hal-hal yang Bermanfaat

‘Umar bin Abdul ‘Aziz rahimahullahu berkata:

“Barangsiapa beranggapan perkataannya merupakan bagian dari perbuatannya (niscaya) menjadi sedikit perkataannya, kecuali dalam perkara yang bermanfaat baginya.”

‘Umar bin Qais Al-Mula’i rahimahullahu berkata:

“Sseorang melewati Luqman (Al-Hakim) di saat manusia berkerumun di sisinya. Orang tersebut berkata kepada Luqman: “Bukankah engkau dahulu budak bani Fulan?” Luqman menjawab: “Benar.”

Orang itu berkata lagi, “Engkau yang dulu menggembala (ternak) di sekitar gunung ini dan itu?” Luqman menjawab: “Benar.”

Orang itu bertanya lagi: “Lalu apa yang menyebabkanmu meraih kedudukan sebagaimana yang aku lihat ini?” Luqman menjawab: “Selalu jujur dalam berucap dan banyak berdiam dari perkara-perkara yang tiada berfaedah bagi diriku.”

Abu ‘Ubaidah meriwayatkan dari Al-Hasan Al-Bashri rahimahullahu bahwasanya beliau berkata:

“Termasuk tanda-tanda berpalingnya Allah Subhanahu wa Ta’ala dari seorang hamba adalah Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan kesibukannya dalam perkara-perkara yang tidak berguna bagi dirinya.”

Sahl At-Tustari rahimahullahu berkata:

“Barangsiapa (suka) berbicara mengenai permasalahan yang tidak ada manfaatnya niscaya diharamkan baginya kejujuran.”

Ma’ruf rahimahullahu berkata: “Pembicaraan seorang hamba tentang masalah-masalah yang tidak ada faedahnya merupakan kehinaan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala (untuknya).”

(Jami’ul ‘Ulum wal Hikam 1/290-294)

Orang Yang Tidak Boleh Diambil Ilmunya

Abdurrahman bin Mahdi rahimahullahu berkata:

“Ada tiga (golongan) yang tidak boleh diambil ilmunya, (yakni): (1) Seseorang yang tertuduh dengan kedustaan, (2) Ahlul bid’ah yang mengajak (manusia) kepada kebid’ahannya, dan (3) seseorang yang dirinya didominasi oleh keraguan serta kesalahan-kesalahan.”

Al-Imam Malik rahimahullahu berkata:

“Tidak boleh seseorang mengambil ilmu dari empat (jenis manusia) dan boleh mengambilnya dari selain mereka (yaitu): (1) Ilmu tidak diambil dari orang-orang bodoh, (2) Tidak diambil dari pengekor hawa nafsu yang menyeru manusia kepada hawa nafsunya, (3) Tidak pula dari seorang pendusta yang biasa berdusta dalam pembicaraan-pembicaraan manusia meskipun tidak tertuduh berdusta pada hadits-hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, (4) Tidak pula dari seorang syaikh yang memiliki keutamaan, keshalihan serta ahli ibadah tetapi dia tidak lagi mengetahui apa yang tengah dibicarakannya.” (n-Nubadz fi ‘Adab Thalabil ‘Ilmi, hal. 22-23)

Musibah

Al-Imam Al-Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah berkata:

“Menangislah kalian atas orang-orang yang ditimpa bencana. Jika dosa-dosa kalian lebih besar dari dosa-dosa mereka (yang ditimpa musibah, red), maka ada kemungkinan kalian bakal dihukum atas dosa-dosa yang telah kalian perbuat, sebagaimana mereka telah mendapat hukumannya, atau bahkan lebih dahsyat dari itu.”(Mawa’izh Al-Imam Al-Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah hal. 73)

“Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala benar-benar menjanjikan adanya ujian bagi hamba-Nya yang beriman, sebagaimana seseorang berwasiat akan kebaikan pada keluarganya.”(Mawa’izh Al-Imam Al-Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah hal. 111)

“Tidak ada musibah yang lebih besar dari musibah yang menimpa kita, (di mana) salah seorang dari kita membaca Al-Qur’an malam dan siang akan tetapi tidak mengamalkannya, sedangkan semua itu adalah risalah-risalah dari Rabb kita untuk kita.” (Mawa’izh Al-Imam Al-Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah hal. 32)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata:

“Seorang mukmin itu berbeda dengan orang kafir dengan sebab dia beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya, membenarkan apa saja yang dikabarkan oleh para Rasul tersebut, menaati segala yang mereka perintahkan dan mengikuti apa saja yang diridhai dan dicintai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan bukannya (pasrah) terhadap ketentuan dan takdir-Nya yang berupa kekufuran, kefasikan, dan kemaksiatan-kemaksiatan. Akan tetapi (hendaknya) dia ridha terhadap musibah yang menimpanya bukan terhadap perbuatan-perbuatan tercela yang telah dilakukannya. Maka terhadap dosa-dosanya, dia beristighfar (minta ampun) dan dengan musibah-musibah yang menimpanya dia bersabar.”

Copyright © Juni 2010, Allah Kuasa Makhluk Tak Kuasa

Di dalam Islam sholat adalah amalan yang paling besar dan agung selepas iman. Tiada amalan yang lebih besar dan agung selepas iman yang dapat menandingi sholat. Karena itulah di dalam Islam, sholat adalah menjadi tiang agama Islam. Tapaknya atau pondasinya adalah iman.

Maksudnya : ”Pangkal segala hal ialah Islam. Sedangkan tiangnya adalah sholat dan puncaknya adalah berjuang di jalan Allah”  (Riwayat Tarmizi)

Bagi Rasul saw dan para sahabat, mereka telah dianugerahkan rasa indah, agung dan lezatnya sholat. Bagi kita yang belum merasakannya, dapat mengusahakannya dengan melihat kebesaran sholat dengan teropong ilmu atau secara ilmiah.

Kebesaran dan keagungan sholat itu dapat dilihat dan dirasakan melalui ilmu pengetahuan berdasarkan 24 aspek seperti di bawah ini:

A. Keagungan berkait dengan pernyataan Allah dan Rasul serta amaran Allah
1) Ia merupakan ibu segala  ibadah di dalam Islam. Rasul SAW bersabda:
”Amalan yang pertama dihisab dari seorang hamba pada hari kiamat ialah sholat. Jika sholatnya baik, maka baiklah seluruh amalnya, sebaliknya jika sholatnya jelek, maka jeleklah seluruh amalnya” (HR Tabrani)

2) Ia merupakan tiang seri agama Islam
” Shalat itu merupakan tiang agama maka barang siiapa mendirikan sholat berarti mendirikan agama dan barang siapa meninggalkan sholat berarti dia sudah meruntuhkan agama”

3) Siapa yang meninggalkan sholat menjadi kafir berdasarkan hadist
”Batas seseorang dengan kekafiran ialah meninggalkan sholat.”
(HR Ahmad, Muslim, Abu Daud, Tirmizi & Ibnu Majah)

B. Keagungan berdasarkan cara pemberian kepada Rasul saw
1) Ia diperintahkan oleh Allah dengan cara Allah memanggil Rasulullah menghadapNya waktu Isra dan Mi’ raj tidak seperti amalan lain yang diwahyukan oleh Allah kepada Rasulullah melalui malaikat Jibril as.

C. Keagungan berkait dengan cara pelaksanaan sholat

1) Ia merupakan ibadah yang terkait dengan disiplin yang tertentu.

2) Mengerjakannya diisyaratkan suci lahir dan batin dari hadast besar dan hadast kecil, najis ain dan najis hukmi.

3) Mesti menghadap kiblat, artinya sholat merupakan lambang perpaduan umat Islam.

4) Pelaksanaannya terikat dengan waktu

”Sesungguhnya sholat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya ke atas orang –orang yang beriman” (QS:An Nisaa: 103)

5) Dalam sholat seluruh anggota terlibat, perbuatan (fizikal), perkataan/bacaan(lisan) dan hati/roh dan aqal untuk memahami sholat.

6) Ia merupakan peribadahan semua anggota lahir dan batin terlibat. Ada yang bersifat fisik dan ada yang bersifat maknawi dan rohani.

7) Pada sholat ada latihan jasmani dan ada latihan mental dan ada latihan rohani.

8) Diutamakan berjemaah dalam melaksanakannya
Rasulullah SAW bersabda:

”Sholat berjamaah itu lebih utama daripada sholat sendirian, dengan dua puluh tujuh derajat.”

9) Berbagai amalan malaikat ada di dalam sholat karena malaikat itu ibadahnya hanya satu perkara saja. Seperti ada malaikat yang hanya bertasbih saja sejak diperintahkan hinggalan hari kiamat, ada malaikat yang bertakbir saja, ada yang bertahmid saja, ada yang ruku’ saja, yang berdiri saja, ada yang sujud saja, begitulah seterusnya.

10) Berbagai bentuk zikir ada di dalam sholat, ada berdiri, ada ruku’, ada sujud, ada duduk antara dua sujud, ada tasbih, ada tahmid, ada takbir,a da munajat,a da berbagai bentuk doa, ada zikit, ada shalawat, ada zikir fizikal, ada aqal, ada rohani, ada material, ada maknawi.
11) Ia merupakan peribadahan atau penyembahan yang paling lengkap karena segala bentuk dan zikir para malaikat wujud dalam sholat.

12) Ia merupakan zikir yang paling besar karena seluruh bentuk zikir  ada di dalam sholat.
Sedangkan kedudukan zikir dalam Islam adalah amat penting, ia bisa menjadikan hati seseorang itu mendapat ketenangan seperti mana Allah SWT berfirman yang artinya:
”Ketahuilah olehmu bahwasanya dengan mengingati Allah itu akan memberi ketenangan kepada hati”   (QS:Ar-Raad:28)

”Sesungguhnya Aku ini adalah  Allah, tidak ada Tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah Sholat untuk mengingat aku.”
(QS: Thaha:14)

13) Di dalam sholat seluruh bentuk do’a ada. Artinya berbagai permintaan ada di dalam sholat.
Ada do’a minta petunjuk dan taufik, do’a minta ampun, do’a minta ditinggikan derajat dan lain-lain. Oleh karena itu ketika berdo’a dalam sholat, waktu itu cukup nyata permohonan kita seperti kita ingin mempunyai sifat taqwa. Maka kita akan dapat kekuatan di dalam hidup kita karena do’a ini, karena Rasulullah SAW pernah bersabda:
”Doa adalah sejata orang mukmin”

”Doa antara adzan dan iqomat adalah doa yang tidak tertolak”

14) Berbagai amalan para rasul wujud di dalam sholat.
D. Keagungan tersirat

1. Amalan sholat itu adalah intipati dan intisari ajaran Islam. Di dalamnya ada aqidah, ada ibadah, ada thaharah, ada masyarakat, ada perpaduan, ada disiplin, ada pemimpin, ada yang dipimpin (politik), ada pendidikan, ada syari’at, ada tasawuf, ada akhlak, ada kebudayaan, ada ekonomi, ada psikologi artinya sholat menggambarkan keseluruhan ajaran Islam secara ijmali.

2. Sholat merupakan Mi’raj orang mukmin.
Sabda Rasul SAW:
”Sholat adalah mi’rajnya seorang mukmin”   (Al Hadis)

3. Sholat merupakan adanya simbol merendahkan diri, ketaatan dan kepatuhan dan simbol berdirinya manusia di padang Mahsyar seolah-olah berhadapan dengan Allah, menunggu perintahNya.

4. Sholat merupakan pembaharuan ikrar manusia kepada Allah, sehari semalam kita perbaharui sebanyak lima kali.
Yaitu janji manusia pada Allah yang dilakukan pada dua tahap yaitu sewaktu di alam Ruh dan janji sewaktu di dunia/dalam sholat

Pada peringkat pertama janji telah kita lakukan dari sejak alam ruh dulu yang telah kita lupakan, diwaktu Allah SWT telah menawarkan suatu jabatan penting kepada makhlukNya yakni untuk mengatur atau menjadi wakil-Nya, menyusun dan mengatur makhluk yang telah diciptakan di alam dunia ini berdasarkan kepada aturan-aturan dan perundang-undangan yang telah direkamkan dalam Al-Ouran dan Sunnah Rasul. Jabatan ini dikenal sebagai jabatan khalifah atau wakil Allah di muka bumi. Jabatan ini ditawarkan oleh Allah kepada makhluk-makhluk yang sesuai menurut kehendak Allah.

Pada mulanya jabatan ini ditawarkan kepada makhluknya yang bernama langit dan bumi, tetapi langit dan bumi yang begitu gagah dan besar tidak sanggup memikul beban tugas yang amat besar dan mulia ini. Ini tidak berarti bumi dan langit tidak berkeinginan, tetapi mereka benar-benar merasa takut, takut kalau-kalau mendurhakai Allah SWT, bila keduanya tidak dapat melaksanakan tugas suci yang diamanahkan oleh Allah SWT ini. Oleh karena itu langit dan bumi mengaku kalah, namun begitu Allah yang Maha Penyayang tidak murka kepada mereka sebab tugas itu merupakan satu penawaran saja dan bukan paksaan. Begitu juga ketika tugas ini ditawarkan kepada bumi dan gunung mereka juga mengaku kalah, akhirnya Allah SWT menawarkannya kepada manusia yang kerdil lagi lemah. Dan manusia yang kerdil lagi lemah ini telah memberi kesanggupan untuk menerima tugas besar dan mulia ini, yang berarti manusia telah bersedia untuk menderma dan sanggup melaksanakan peraturan-peraturan dan tata hidup yang telah diatur oleh Allah melalui Al-Quran dan Sunnah. Kesungguhan manusia untuk memikul tugas dan tanggung jawab ini bukan semata-mata karena tinggi atau beratnya tuga tersebut tetapi karena tertarik janji Allah maka mereka akan diberi kebenaran atau tauliah untuk menggunakan, mengatur dan mengawal bumi dan lautan dan segala khazanah yang terkandung di dalamnya,

Atas kesediaan atau janji setia inilah Allah Yang Maha Penyayang dan Maha Pemurah telah melahirkan kita ke dunia ini melalui rahim ibu kita. Malang sekali insan telah berjanji banyak yang tidak dapat mempertahankan janjinya. Hal ini jelas dalam firman Allah SWT:
”Sedikit sekali dari hamba-hambaKu yang bersyukur”

Dengan lain kata perkataan insan-insan yang sudah melahirkan ketaatan dan janjinya di alam roh sangat sedikit sekali. Oleh karena itulah sholat mengandung hikmah yang sangat besar yang merupakan pembaharuan kembali sumpah setia yang telah kita ikrarkan di alam roh.

Kalau kita teliti satu saja dari ayat-ayat yang termaktub salam sholat sudah mencukupi bagi kita menentukan apakah yang kita ulang-ulang  dalam sholat. Ayat ini terkandung dalam doa iftitah yang artinya:

” Sesungguhanya sholatku, ibadahku, hidupku dan matiku semuanya untuk Allah seru sekalian alam.”

5. Sholat merupakan pembaharuan syahadat dan iman kepada Allah

Dalam sholat juga terkandung rukun iman  yang enam,

o Rukun iman yang pertama menuntut kita supaya beriman kepada Allah, diawal pembukaan sholat kita sudah meletakkan kepercayaan kita kepada keagungan dan kebesaran Allah SWT. Takbiratul ikhram merupakan rukun awal di dalam sholat, perbuatan melafazkan Allahu Akbar adalah merupakan satu pengakuan akan kewujudan Allah serta keagungan dan kebesaran sifat-Nya.

o Rukun iman yang kedua ialah meyakinkan adanya malaikat. Jika kita sudah buka sholat dengan mengaku bahwa Allah adalah tuhan kita, otomatis kita akui semua yang Allah firmankan di antaranya Allah ciptakan para malaikat untuk menjalankan pentadbiran Allah. Di antaranya ada juru catat malaikat Raqib dan Atid. Ini tentulah menginsafkan kita bahwa kita senantiasa diawasi oleh kaki tangan pengaturan Allah yang tidak pernah mengenal istirahat dan cuti.

o Rukun iman yang seterusnya adalah percaya kepada rasul-rasul dan berhubung dengan hal ini secara terang menyatakan dalam sholat mengaku kerasulan Rasulullah SAW yang sekaligus kita meyakini semua yang disabdakannya, yang antara lain baginda pernah bersabda:

”Selain daripadaku terdapat banyak lagi rasul yang diturunkan oleh Allah SWT”

o Rukun iman yang keempat adalah percaya kepada kitab Allah. Dalam sholat Allah mewajibkan untuk membaca surat Al-Fatihah yang dikenal dengan nama ”Ummul Kitab” yang isinya supaya umat muslimin percaya akan hari kiamat dan kedahsyatannya.

o Kepercayaan terhadap untung baik dan buruk itu datang dari Allah SWT merupakan rukun iman yang terakhir. Ringkasnya kita yakin dan percaya bahwa yang menghitam putihkan nasib kita ialah Allah bukan syaitan, jin, tunggul, gunung atau kubur, sebab itu Allah mengajar manusia baik di waktu luar ataupun waktu dalam sholat yang artinya:

”Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan”
6. Sholat merupakan pembersihan jiwa dan dosa
”Sholat lima waktu, jum’at ke jum’at, Ramadhan ke Ramadhan, menutupi dosa-dosa yang dilakukan di antara ( waktu-waktu tersebut) asal di jauhi dosa-dosa besar.”        (HR Muslim)

”Maukah kamu aku tunjukkan sesuatu yang dengannya Allah menghapus dosa-dosa dan meninggikan derajat” menyempurnakan wudhu pada bagian yang kurang disukai, banyak melangkah ke mesjid dan menunggu waktu sholat fardhu. Itulah cara menguasai diri yang baik.”     (HR Muslim)

Itulah diantara perkara yang dengannya kita dapat melihat betapa agungnya sholat. Itu baru dilihat dari sudut ilmu pengetahuan atau baru dilihat secara ilmiah saja. Bagi orang-orang yang telah dirizkikan sholat yang khusyu maka masih banyak lagilah yang ia dapat sebutkan tentang hal berkait dengan keagungan sholat. Namun sekedar yang sudah disebut di atas pun sepatutnya sebagai hamba Allah kita akan merasakan betapa Allah Maha baik, yang telah menghadiahkan kepada hambaNya satu ibadah yang begitu agung dan tentunya kita akan sangat berterimakasih dengan pemberian tersebut dimana kesyukuran itu kita wujudkan dalam bentuk kesungguhan kita dalam mendirikan sholat dan tuntutan-tuntutannya.

Copyright © Juni 2010, Allah Kuasa Makhluk Tak Kuasa

Seorang muslim yang tua dia mempunyai kebiasaan membuat kopi sehabis shalat Isa yang kopi ini nantinya akan dia minum untuk shalat tahajjut tengah malam nanti. Kebiasaan ini sudah bertahun-tahun dia lakukan dengan istiqomah menyediakan kopi untuk tahajjut.

 

Seperti biasanya orang tua tadi membuatkan kopi untuk diminum tahajjut malam nanti. Setelah membuatkan kopi di pun keluar rumah untuk bersilaturrahmi mendatangi saudaranya sesama muslim mengingatkan perkara bahwa kita hidup didunia sementara akhiratlah kehidupan yang abadi.

 

Ketika itu terjadilah gempa bumi dikampung mereka yang mengakibatkan seluruh rumah dan bangunan yang ada dikampung itu hancur semua, tetapi yang sangat menakjubkan ketika orang tua tadi pulang kerumahnya didapatinya rumahnya telah hancur rata dengan tanah, tetapi kopi yang biasa dibuatnya untuk diminum tahajjut malam tidak tumpah sedikitpun dan meja yang dibuat untuk menaruh kopi itu pun tidak bergeser sedikit pun.

 

Allah SWT biasa berkehendak menyelamatkan kopi itu, kenapa? Karena kopi ini dia niatkan untuk agama maka Allah SWT jaga.

 

Kalaulah hidup kita, keluarga kita dan harta benda kita niatkan untuk agama Allah, maka Allah SWT akan menjaganya. Insya Allah kita niatkan diri kita, keluarga kita dan harta benda kita untuk agama.

 

Copyright © Juni 2010, Allah Kuasa Makhluk Tak Kuasa

Allah SWT mencibtakan manusia dari tanah. Sifat tanah ini mudah terkena kondisi dan keadaan. Kalau hujan maka tanah akan basah begitu juga kalau panas tanah akan kering. Manusia pun begitu juga mudah terkena kondisi dan keadaan. Kalau lingkungan manusia itu kurang baik maka banyak sedikitnya manusia itu pun menjadi kurang baik. Kalau lingkungan manusia itu baik maka banyak sidikitnya manusia itu pun akan baik.

Mengapa ketika bulan ramadhan tiba mesjid-mesjid pada ramai karena pada bulan ramadhan suasan adan keadaan agama itu ada dimana-mana kita dapatkan suasana agama. Kita nonton TV, TV pun menyiaarkan siaran yang berbau agama bahkan artis-artis pun pada bulan ramadhan tutup aurat. Kita mendengarkan radio pun siaran yang disiarkan mengenai agama. Jumpa dengan teman pun bercerita masalah agama.

Ketika ada pertandingan sepak bola di stadion. Mana yang kita pilih nonton siaran langsung dari TV atak langsung nonton pertandingan sepak bola ke stadion. Pasti kita memilih nonton langsung ke stadion karena disana ada suasana dan keadaan yang mendorong kita untuk kesana. Begitu juga kalau ada konser music salah satu band favorit  kita diadakan dilapangan terbuka. Mana yang kita pilih nonton lewat TV, mendengarkan lewat radio atau langsung nonton kelapangan. Maka kita pasti lebih memilih untuk nonton kelapangan karena disana ada suasana dan keadaan yang mendorong kita untuk kesana.

Untuk mendapatkan suasana agama pun begitu juga  kita usahan diri kita selalu dalam kondisi dan keadaan yang ada suasana agama. Suasana agama akan kita dapatkan hanya dimesjid saja karena hanya dimesjid yang selalu ada suasana agama. Adanya shalat berjamaah, pengajian agama, kegiatan-kegiatan agama lainya. Selalu bergaul dengan teman-teman yang selalu berbicara mengenai agama. Insya Allah kita selalu berusaha mensuasanakan diri kita dalam agama jangan kita yang terkena suasana yang lalai dari mengingat Allah SWT dan sebainya lagi kita yang membuat suasana agama dimana-mana. Kita tidak malu menunjukan diri kita sebagai seorang muslim dengan selalu berpakaian, bertingkah laku, berbicara dan berakhlak secara islami. Kalau kita sudah biasa membuat suasan agama dimana-mana, baik itu dikantor, diladang, dipasar, dalam lingkungan keluarga maupun masyarakat. Maka kita akan menjadi asebab hidaya untuk orang lain. Tangan kita selalu berbuat kebaikan, kaki kita selalu melangkah kepada kebaikan, lidah kita selalu berbicara kebaikan, mata kita selalu melihat kebaikan. Maka seluruh tubuh kita ini adalah pabrik kebaikan yang dengan melihat kita pun orang akan dapat hidayah, mendengar pembicaraan kita orang lain pun akan dapat hidayah. Mudah-mudahan Allah SWT pilih kita untuk menjadi asebab hidayah diseruh alam seperti Rasulullah SAW.

Copyright © Juni 2010, Allah Kuasa Makhluk Tak Kuasa

Alam kandungan adalah tempat untuk menyempurnakan jasad

Alam dunia adalah tempat untuk menyempurnakan amal

 

Dari setetes air mani Allah jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Allah jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Allah jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Allah bungkus dengan daging. Kemudian Allah jadikan dia makhluk yang sebaik-baik pencibtaan yaitu manusia. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik.

Alam kandungan tempat menyempurnakan jasad.

Selama seorang bayi masih didalam kandungan ibunya yang menghubungkan seorang anak dengan ibunya hanya tali plasenta saja. Dari situlah seorang bayi mendapatkan makan berserta minuman dan kebutuhan-kebutuhan yang lainnya. Ketika didalam kandungan kalaulah sibayi tadi berpikir untuk apa saya punya tangan, untuk apa saya punya kaki, untuk apa saya punya mata, untuk apa saya punya mulut, untuk apa saya punya telinga. Kan tali plasenta ini saja sudah cukup untuk saya karena dari situlah dia mendapatkan kehidupan.

Setelah sibayi tadi terlahir kedunia baru dia menyadari beta pentingnya tangan, betapa pentingnya kaki, betapa pentingnya mata, betapa pentingnya mulut, betapa pentingnya telinga. Kalaulah didalam kandungan Allah SWT tidak sempurnakan tangan, kaki atau mata dia maka ketika dia terlahir kedunia dalam keadaan cacat. Walaupu dia memohon dan meminta kepada Allah jutaan kali untuk kembali kealam kandungan menyempurnakan jasadnya Allah SWT tidak akan kabulkan. Karena alam kandungan telah dia lalui dan dia sekarang berada dalam alam dunia. Maka sibayi tadi akan cacat seumur hidupnya.

Alam Dunia tempat untuk menyempurnakan amal.

Kalaulah didunia kita berpikiran. Untuk apa saya shalat, untuk apa saya puasa, untuk apa saya bersedekah, untuk apa saya naik haji, itu semua hanya membuang-buang waktu saja. Bukankah kehidupan didunia ini hanya satu kali saja makanya harus dinikmati sebaik mungkin. Ketika dia meninggal dunia barulah dia tahu apa gunanya shalah, apa gunyanya puasa, apa gunanya sedekah, apa gunanya haji. Walaupu dia memohon dan meminta kepada Allah jutaan kali untuk kembali kealam dunia untuk menyempurnakan amalnya walaupun hanya untuk satu hari saja maka doanya ditolak Allah SWT.

Ketika seorang bayi dilahirkan keatas dunia maka semua keluarga menyambutnya dengan perasan gembira. Sang ayah sangat gembira sekali karena bayi yang telah lama dia nantikan lahir dengan selamat. Begitu juga dengan seorang ibu bukan main senangnya dia karena perjuangannya selama 9 bulan sudah berakhir dan mendapatkan anak mungil dan cantik jelita. Semua yang menyambut kelahiran bayi itu sangat gembira sekali. Tetapi dibalik semua kegembiraan itu sang bayi yang baru lahir tadi, sebaliknya tangisan yang sangat histeris yang dia lantunkan. Bukan hanya anggota keluarga yang mendengarkan tangisan bayi itu bahkan tetangga-tetangga pun mendengankan tangisan bayi itu. Mengapa sang bayi menangis dibalik kegembiranan semua orang. Karena dia faham betul dia akan menghadapi kehidupan dunia yang penuh dengan cobaan, yang penuh dengan penderiaan, yang penuh dengan dosa-dosa, yang penuh dengan sendau gurau. Tangisan sang bayi itu rupanya mengandung makna yang mendalam tetapi kita tidak pernah memikirkannya.

Sebaliknya ketika sang bayi mulai tumbuh dewasa dan menikah serta punya anak kemudia dia meninggal dunia maka semua anggota keluarga akan menangis dengan histerisnya yang dulunya dia di sambut saat kelahiran dengan kegembiraan tetapi ketika meninggal dunia tangisan yang dia dapatkan. Sang anak tadi ketika dia hidup didunia dia isi kehidupannya dengan agama, mentaati apa yang wajibkan Allah kepadanya dan menjauhi apa yang dilarang. Ketika dia meninggal dunia maka dibalik tangisan semua orang malah dia tersenyum dengan manisnya. Karena dia faham betul selama ini yang dia rindukan akan dia dapatkan, selama ini yang dia impikan akan dia dapatkan berupa sorganya Allah SWT yang didalamnya akan kekal selamanya.

Kehidupan didunia ini seperti menaiki kendaraan. Ayah duduk didepan sebagai sopir sang istri disampinya dan anak-anak dibelakang. Ketika sampai ditengah perjalanan seorang pemuda yang tampan menyetop mobil mereka. Stop kata sepemuda tadi maka sang ayah bertanya kamu siapa. Saya Rupiah, oh silahkan masuk. Ibu kebelakang dulu ya rupiah mau masuk maka ibu pun mudur kebelakang. Setelah melakukan perjalanan jumpa lagi dengan pemuda yang lebih tampan lagi. Maka sibapak bertanya, kamu siapa? Saya dollar, oh silahkan masuk maka dia pun menyuruh sirupiah untuk menggeser sedikit supaya dollar bisa masuk karena dollar lebih berharga dari rupiah. Ditengah perjalanan lagi seoarang pemuda yang sangat tampan sekali menyetop mobil beliau. Maka sang ayah bertanya. Kamu siapa? Saya agama, aduh sudah tidak ada tempat. Mobilnya sudah penuh.

Didalam hati kita sudah tidak ada lagi tempat untuk agama karena semuanya sudah diisi dengan istri, anak, rupih dan dollar. Sampailah pada penghujung jalan berjumpa lagi dengan pemuda yang buruk rupanya, bengis dan kejam. Sang ayah bertanya. Kamu ini siapa? Saya adalah malaekat maut. Sang ayah menjawab. Tunggu dulu tadi ada yang ketinggalan ditengah jalan saya mau menjemputnya. Dia itu agama. Maka malaekat maut berkata tidak ada lagi waktu untukmu. Maka dia pun mati tidak bawa agama. Maka penderitaan – penderitaanlah yang dia dapatkan mulai dari siksa kubur sampi dia nanti dicampakkan kedalam neraka.

Satu hari diakhirat 1000 tahun didunia. Kalaulah kita hidup didunia 60 atau 70 tahun. Kita hidup didunia ini kurang lebih 2 ½ jam saja perhitungan akhirat. Ketika dilahirkan kita akan di azankan begitu juga ketika kita mati kita dishalatkatkat. Begitu singkat kehidupan kita yang hanya antara azan dengan shalat saja.

Mulai saat ini, detit ini kita niatkan didalam hati kita, harta saya, waktu saya, usia saya, diri saya bahkan mati saya untuk agama Allah SWT.

Copyright © Juni 2010, Allah Kuasa Makhluk Tak Kuasa

Sahabat Ma’adz bin Jabal bertanya kepada Rasulullah :

” Ya Rasul …Terangkan kepadaku tentang makna firman Allah :
Yaitu hari ketika ditiup sangkakala, lalu kamu datang berkelompok-kelompok .”
Maka menangislah Rasulullah. Cucuran airmatanya membasahi bajunya Engkau telah bertanya sesuatu yang dahsyat. Umatku akan dibangkitkan pada hari kiamat dalam kelompok-kelompok 12 (dua belas) tabiat :

Kelompok pertama : Dibangkitkan tanpa tangan dan kaki.
Seraya terdengar suara dari sisi Tuhan
” Mereka adalah orang-orang yang menggangu tetangganya. Maka inilah ganjarannya dan nerakalah tempatnya .”

Kelompok kedua : Dibangkitkan dalam bentuk babi.
Seraya terdengar suara dari sisi Tuhan
“Mereka adalah orang-orang yang bermalas-malas melakukan shalat Maka inilah ganjarannya dan nerakalah tempatnya .”

Kelompok ketiga : Dibangkitkan dari kuburnya dalam keadaan perut besar menggunung, dipenuhi ular dan kalajengking
Seraya terdengar suara dari sisi Tuhan
“Mereka adalah orang-orang yang menahan-nahan zakat Maka inilah ganjarannya dan nerakalah tempatnya.”

Kelompok keempat : Dibangkitkan dari kuburnya dalam keadaan darah mengalir dari mulut.
Seraya terdengar suara dari sisi Tuhan
” Mereka adalah orang-orang yang berdusta dalam jual-beli Maka inilah ganjarannya dan nerakalah tempatnya.”

Kelompok kelima : Dibangkitkan dari kuburnya dalam keadaan berbau busuk. Lebih busuk dari bau bangkai
Seraya terdengar suara dari sisi Tuhan
” Mereka adalah orang-orang yang melakukan maksiat tersembunyi karena merasa takut dilihat orang tetapi tidak takut dari pengawasan Allah Maka inilah ganjarannya dan nerakalah tempatnya.”

Kelompok keenam : Dibangkitkan dari kuburnya dalam keadaan terputus lehernya Seraya terdengar suara dari sisi Tuhan
” Mereka adalah orang-orang yang memberi kesaksian palsu Maka inilah ganjarannya dan nerakalah tempatnya.”

Kelompok ketujuh : Dibangkitkan dari kuburnya tanpa memiliki lidah. Dari mulutnya mengalir nanah dan darah.
Seraya terdengar suara dari sisi Tuhan
” Mereka adalah orang-orang yang menolak memberi kesaksian Maka inilah ganjarannya dan nerakalah tempatnya.”

Kelompok kedelapan : Dibangkitkan dari kuburnya dalam keadaan tertunduk. Kedua kaki di atas kepala
Seraya terdengar suara dari sisi Tuhan
” Mereka adalah orang-orang yang gemar melakukan zina dan keburu mati sebelum bertobat Maka inilah ganjarannya dan nerakalah tempatnya.”

Kelompok kesembilan : Dibangkitkan dari kuburnya dalam keadaan berwajah hitam. Matanya biru perutnya penuh api
Seraya terdengar suara dari sisi Tuhan
” Mereka adalah orang-orang yang memakan harta, dan merampas hak anak-anak yatim secara zalim Maka inilah ganjarannya dan nerakalah tempatnya.”

Kelompok kesepuluh : Dibangkitkan dari kuburnya Dalam keadaan sakit kusta dan sopak
Seraya terdengar suara dari sisi Tuhan
” Mereka adalah orang-orang yang mendurhakai kedua orangtua Maka inilah ganjarannya dan nerakalah tempatnya.”

Kelompok kesebelas : Dibangkitkan dari kuburnya dalam keadaan buta-hati buta-mata. Giginya seperti tanduk kerbau. Bibir dan lidahnya bergelantungan mencapai dada, perut, dan paha. Sedang dari perutnya keluar kotoran.
Seraya terdengar suara dari sisi Tuhan
” Mereka adalah orang-orang yang gemar meminum khamr Maka inilah ganjarannya dan nerakalah tempatnya.”

Kelompok kedua belas : Dibangkitkan dari kuburnya dengan wajah bercahaya, seperti sinar bulan purnama. Melewati sirath al-Mustaqim. Secepat kilat menyambar angin
Seraya terdengar suara dari sisi Tuhan
” Mereka adalah orang-orang yang melakukan amal kebajikan. Menjauhi segala kemaksiatan. Rajin memenuhi panggilan shalat, dan mati sesudah bertobat Maka ganjaran mereka adalah: Pengampunan, rahmat, dan ridha, Serta surga dari Allah Ta’ala.”

( Tanbihul Ghafilin ) Kitab Tanbihul Ghafilin karangan Abullaits Assamarqandi

Copyright © Juni 2010, Allah Kuasa Makhluk Tak Kuasa

Rasulullah saw. Bersabda,”Umumnya ahli neraka dari kalangan wanita.” (Hr. Thabrani)

Rasulullah saw. Bersabda,”Sesung6uhnya penduduk surga yang paling sedikit adalah Wanita.” (Hr. Muslim, Ahmad)

Ali r.a. Bercerita,”Suatu ketika saya dan Fatimah pergi ke rumah Rasulullah saw. Ketika kami memasuki rumahnya, kami jumpai beliau sedang menangis, maka saya bertanya kepadanya, “Ya Rasulullah, mengapa kau menangis?” Rasulullah saw. Bersabda, “Aku menangis disebabkan ketika aku di israkan ke langit, aku melihat keadaan orang-orang yg di siksa. Itulah yg menyebabkan aku menangis karena akau selalu mengenangnya.” Ali r.a. Bertanya, “ya rasulullah, apakah yg telah engkau lihat?” Rasulullah saw. Menjawab, “Aku melihat 10 siksaan bagi kaum wanita:

* wanita digantung dgn rambutnya dan otak kepalanya mendidih.

* wanita yg digantung dgn lidahnya dan tangannya dikeluarkan dari pung6ungnya. Lalu minyak panas dituangkan ke dalam teng6orokannya.

* Wanita yg digantung dgn buah dadanya yg ditarik dari arah pung6ungnya dan air dari kayu Zaqqum dituangkan ke teng6orokannya.

* Wanita yg di gantung dengan diikat kedua kakinya serta kedua tangannya dan dibelitkan kepadanya beberapa ekor ular dan kalajengking sampai keubun-ubun.

* Wanita yg memakan badannya sendiri, dan dibawahnya api yg sedang menyala-nyala.

* Wanita yg memotong badannya sendiri dgn gunting dari neraka.

* Wanita yg berwajah hitam dan ia memakan isi perutnya sendiri.

* Wanita yg tuli, buta dan bisu yg diletakkan dalam peti dari neraka dan darah mengalir dari setiap lobang badanya, seperti lobang hidung, telinga, mulut dan lainnya. Berbau busuk seperti penyakit kulit dan lepra.

* Wanita yg berkepala seekor babi dan badannya seperti keledai, mereka mendapatkan siksaan sejuta macam siksaan.

* Wanita yg berbentuk anjing dan beberapa ekor ular dan kalajengking masuk ke dalam mulutnya dan keluar dari duburnya. Dan para malaikat memukulinya dengan palu godam dari neraka.

 

Ketika Fatimah ra.h. Mendengar hal ini, maka Fatimah ra.h. Berkata, “Wahai Ayah, ceritakanlah padaku Amalan apakah yang menyebabkan wanita2 itu disiksa?” kemudian Rasulullah saw. Menjawab, “Wahai anaku Fatimah, mereka ini adalah:

# wanita yg digantung dgn rambutnya, adalah wanita yg tidak mau menutup rambutnya dari penglihatan laki2 bukan mahramnya.

# Wanita yg digantung lidahnya, adalah wanita yg suka menyakiti hati suaminya dgn kata2nya yg kotor dan menyakitkan.

# Wanita yg digantung dgn buah dadanya, adalah wanita yg menyusui anak orang lain tanpa izin suaminya.

# Wanita yg digantung dgn diikat kaki dan kedua tangannya, adalah wanita yg keluar rumah tanpa izin suaminya. Dan mereka tidak mandi setelah haidh dan nifas.

# Wanita yg memakan badannya sendiri adalah wanita yg berhias untuk dilihat lelaki lain yg bukan mahramnya, dan mereka yg suka membicarakan aib orang lain.

# Wanita yg memotong-motong badannya dengan gunting dari neraka, adalah wanita yg menyombongkan dirinya dengan perhiasannya agar dilihat dan dipuji orang lain.

# Wanita yg diikat kaki dan tangannya dgn lilitan ular hing6a keubun-ubun, adalah wanita yg tidak mau mengerjakan shalat.

# Wanita yg kepalanya seperti Babi dan badannya seperti keledai adalah wanita yg suka mengadu doMba dan suka berdusta.

# Wanita yg berbentuk seperti Anjing adalah wanita yg suka membuat Fitnah dan memarahi suami.

Mereka inilah wanita-wanita yg menjadi pengHuni NERAKA.”

Mudah-mudahan Allah menjaga kita semua dari siksa di dunia dan Akhirat. AMIN YA RABBAL ALAMIN

Copyright © Juni 2010, Allah Kuasa Makhluk Tak Kuasa

Apa Itu Setan?

Setan (Syaithan) berasal dari kata kerja syathana yang mengandung arti menyalahi, menjauhi. Setan artinya pembangkang pendurhaka. Secara istilah, setan adalah makhluk durhaka yang perbuatannya selalu menyesatkan dan menghalangi dari jalan kebenaran (al-haq). Makhluk durhaka seperti ini bisa dari bangsa jin dan manusia, Allah berfirman, artinya

1. Katakanlah: “Aku berlidung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia. 2. Raja manusia. 3. Sembahan manusia. 4. Dari kejahatan (bisikan) syaitan yang biasa bersembunyi, 5. Yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, 6. Dari (golongan) jin dan manusia. (QS An nas 1-6)

Dan Demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap Nabi itu musuh, Yaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dan jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). Jikalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, Maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan. (QS Al An’aam 112)

Makhluk yang pertama kali durhaka kepada Allah adalah iblis. Maka iblis itu disebut setan. Keturunan iblis yang durhaka juga disebut setan

Lalu keduanya digelincirkan oleh syaitan dari surga itu dan dikeluarkan dari Keadaan semula dan Kami berfirman: “Turunlah kamu! sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain, dan bagi kamu ada tempat kediaman di bumi, dan kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan.” . (QS Al Baqarah 36)

Adam dan hawa dengan tipu daya syaitan memakan buah pohon yang dilarang itu, yang mengakibatkan keduanya keluar dari surga, dan Allah menyuruh mereka turun ke dunia. yang dimaksud dengan syaitan di sini ialah iblis yang disebut dalam surat Al Baqarah ayat 34 di atas. Dan maksud Keadaan semula ialah kenikmatan, kemewahan dan kemuliaan hidup dalam surga

Yang dila’nati Allah dan syaitan itu mengatakan: “Saya benar-benar akan mengambil dari hamba-hamba Engkau bahagian yang sudah ditentukan (untuk saya), (QS An Nisaa 118)

Pada tiap-tiap manusia ada persediaan untuk baik dan ada persediaan untuk jahat, syaitan akan mempergunakan persediaan untuk jahat untuk mencelakakan manusia.

Dalam menggoda manusia, setan dari bangsa jin itu masuk ke dalam diri manusia, membisikkan sesuatu yang jahat dan membangkitkan nafsu yang rendah (syahwat). Selain menggoda dari dalam diri manusia, setan juga menjadikan wanita, harta, tahta, pangkat dan kesenangan duniawi lain sebagai umpan (perangkapnya, Dihiasinya Kesenangan duniawi itu dihiasinya sedemikian menarik hingga manusia tergoda, terlena, tertutup mata hatinya, lalu memandang semua yang haram jadi halal. Akhirnya manusia terjerumus ke dalam lembah kemaksiatan/ kemungkaran. Maka manusia yang telah mengikuti ajakan setan, menjadi hamba setan, dalam al-Quran juga disebut setan, sesuai firman Allah yang artinya

“Dan (kami tundukkan pula kepadanya) syaitan-syaitan semuanya ahli bangunan dan penyelam, (37) Dan syaitan yang lain yang terikat dalam belenggu. (38) (QS As shod 37-38)

Dan golongan (partai) mereka juga disebut golongan setan (hizbusy-syaithan), Allah berfirman yang artinya

“Syaitan telah menguasai mereka lalu menjadikan mereka lupa mengingat Allah; mereka Itulah golongan syaitan. ketahuilah, bahwa Sesungguhnya golongan syaitan Itulah golongan yang merugi. (QS Al Mujaadilah 19)

Baik setan dari bangsa jin maupun dari bangsa manusia terus menerus berupaya untuk menyesatkan manusia. mereka bahu membahu untuk menyebarkan kemungkaran dan kemaksiatan. Mereka kuasai berbagai media, termasuk televisi, mereka sebarkan kisah-kisah misteri dan kemaksiatan demi uang dan kesenangan duniawi tanpa peduli umat manusia rusak atau tidak akidahnya dan akhlaknya. Itulah sumpah setan di hadapan Allah untuk menggoda manusia dari berbagai sudut yang bisa mereka masuki. Dijelaskan dalam Al Qur’an, artinya:

Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat). (QS Al A’raaf 17)

Hikmah Diciptakannya Setan

Al Quran menjelaskan, Allah SWT menciptakan alam semesta dan semua yang ada di dalamnya, satu pun tidak ada yang batil atau sia-sia

“(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan Kami, Tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha suci Engkau, Maka peliharalah Kami dari siksa neraka. (QS Ali Imran 191)

Oleh karena itu Allah menciptakan iblis atau makhluk yang disebut setan Itu, bila dilihat dari sisi nilai ibadah, pada hakikatnya juga ada hikmahnya.

1. Untuk menguji keimanan dan komitmen manusia beriman terhadap perintah Allah. Karena setiap orang yang mengaku beriman kepada Allah pasti akan diuji

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? (QS An Kabuut 2)

Jika dengan godaan setan seorang mukmin tetap istiqamah dengan keimanannya, maka derajatnya akan ditinggikan oleh Allah dan hidupnya akan bahagia. Tetapi jika ia tergoda dan mengikuti ajakan setan, derajatnya akan jatuh, hina kedudukannya dan dipersulit hidupnya oleh Allah.

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan Kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, Maka Malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: “Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu”. Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta. (QS Al Fushshilat 30-31)

2. Menguji keikhlasan manusia beriman dalam mengabdi kepada Allah,

Allah SWT menjelaskan bahwa Dia menciptakan jin dan manusia tidak lain supaya mereka mengabdi kepada-Nya

“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku”. (QS Az Zhariat 56)

Kemudian setan datang menggoda manusia, membangkit-bangkitkan syahwat kepada kenikmatan duniawi, membisikkan ke dalam hatinya angan-angan kosong dan keraguan, supaya manusia lupa terhadap tujuan dan tugas hidupnya di dunia. Jika manusia tetap sadar akan tujuan dan tugas hidupnya di dunia, dia akan tetap ridha menjadi hamba Allah dan mengabdi kepada-Nya. Terhadap hamba Allah seperti ini, setan tidak akan rnampu menggodanya

“Kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis di antara mereka”. (QS Al Hijr 40)

Mukhlis ialah orang-orang yang telah diberi taufiq untuk mentaati segala petunjuk dan perintah Allah s.w.t.

Tetapi jika manusia tergoda, pada gilirannya ia akan menjadi hamba setan.

3. Untuk meningkatkan perjuangan di jalan Allah.

Sebab tanpa ada setan yang memusuhi kebenaran, maka tidak akan ada semangat perjuangan (jihad) untuk mempertahankan kebenaran. Sedangkan jihad di jalan Allah juga merupakan bukti penting manusia beriman dan ridha sebagai hamba Allah.

Wallahu a’lam….

Copyright © Juni 2010, Allah Kuasa Makhluk Tak Kuasa

 

Tagged akhir jaman, bani tamim, imam mahdi, pemuda

Suatu kali, Rasulullah SAW bersabda, “Konstantinopel akan jatuh ke atas tangan seorang Amir (ketua) yang baik lagi beragama, tentaranya tidak melampaui batas, tidak mencuri dan rakyatnya tidak penipu dan tidak bergaul bebas (baik)”. (Hadits riwayat Imam Abul Hasan Ahmad bin Jaafar).

Rasulullah SAW menyebut kejatuhan Konstantinopel tersebut secara umum, tanpa menyebut tahun, kurun mana, siapa, kaum mana dan siapa pemimpin tersebut.

Karena yang memberitahu peristiwa tersebut adalah Rasulullah SAW sendiri, maka sejak jaman Nabi SAW masih hidup, banyak di antara sahabat yang sangat bergairah dan berlomba-lomba untuk mewujudkan janji tersebut. Mereka berharap kemenangan tersebut akan terjadi di tangan mereka, di antara sahabat yang mencobanya ialah Abu Ayyub Al Ansari, Ahmad Al Ansari, Hamidullah Al Ansari dan Abu Tsabit Al Hudri. Makam-makam mereka berada di kota yang menjadi benteng kerajaan Romawi tersebut.

Pada saat itu, para sahabat belum berhasil merebut Konstantinopel, namun perjuangan tersebut terus berlangsung dari generasi ke generasi, hingga akhirnya kota tersebut jatuh hanya dalam waktu satu malam di tangan Muhammad Alfateh dari keturunan Bani Utsman, dalam kurun 600 tahun setelah sabda Rasulullah SAW di atas.

Namun demikian, perjuangan dan pengorbanan para sahabat bukanlah sesuatu yang sia-sia, dengan segala keyakinan mereka telah berusaha untuk mewujudkan janji-janji Allah SWT yang diucapkan lewat lisan Rasulullah SAW.

Diantara peristiwa yang akan terjadi di akhir jaman yang diberitahukan oleh Rasulullah SAW, adalah kemunculan seorang pemuda Bani Tamim beserta jamaahnya yang akan menyiapkan sebuah landasan yang kuat bagi munculnya seorang pemimpin umat di akhir jaman yaitu Imam Mahdi.

Seorang ulama hadits yang banyak mengkaji tentang pemuda ini adalah Imam Suyuti dalam kitabnya Jamiush Shaghir, bahkan karena saking inginnya beliau mewujudkan janji Rasulullah SAW itu, beliau juga berusaha untuk membentuk satu jamaah yang mendekati sifat-sifat pemuda Bani Tamim dan jamaahnya. Namun, seperti dalam peristiwa Konstantinopel, beliau belum ditakdirkan untuk dipilih menjadi pemuda tersebut.

Hadits Rasullah SAW mengenai pemuda ini diriwayatkan dari Ibnu Umar RA, bahwa pada suatu hari Rasulullah SAW, sambil memegang tangan Saidina Ali RA, beliau bersabda : “Akan keluar dari sulbi ini seorang pemuda yang memenuhi bumi ini dengan keadilan. Maka apabila kamu menyakini demikian itu hendaklah bersama Pemuda Bani Tamim itu. Sesungguhnya dia datang dari sebelah Timur dan dialah pemegang panji-panji Al Mahdi.” (Hadis riwayat At Tabrani).

Di antara sifat-sifat yang melekat pada Pemuda Bani Tamim adalah :

* Dia berketurunan Suku Tamim atau Bani Tamim ; Siapa sesungguhnya keturunan Bani Tamim, untuk hal ini terdapat perbedaan ijtihad di kalangan ulama. Di kalangan bangsa Arab ada satu kabilah yang bernama Tamim. Kabilah Tamim ini adalah satu kabilah dari bangsa Quraisy yang mendiami kawasan sekitar kota Makkah. Di antara sahabat yang berasal dari kabilah Tamim ialah sahabat yang paling setia kepada Rasulullah SAW,yaitu Abu Bakar as-Siddiq RA. Ulama lain berpendapat bahwa pemuda Tamim ini adalah berasal dari keturunan Ahlul Bait.

* Keturunannya sudah bercampur dengan bangsa Timur ; Pemuda ini adalah seorang yang keturunan Bani Tamimnya telah bercampur dengan bangsa dari timur, ia lebih dikenal sebagai orang dari bangsa Timurnya daripada suku Tamimnya. Jika orang bertanya kepadanya, “Darimana engkau berasal?” Ia akan menjawab, “Dari Timur.” Jika ditanya pula, “Apa kebangsaanmu?” Pemuda Bani Tamim akan menjawab, “Aku dari bangsa Timur.” Keterangan ini dijelaskan oleh Imam Suyuti dalam kitabnya al-Jami’us Soghir.

* Pemuda itu bernama Syuaib bin Soleh ; Menurut para penafsir nama tersebut bukan nama yang sebenarnya tetapi merujuk kepada suku bangsanya (suku kecil dari suatu bangsa), dia adalah seorang pemuda yang baik dan berasal dari keluarganya yang terkenal berakhlak baik. Dari segi bahasa Arab, kata Syu’bun berarti suku bangsa atau puak dari suatu bangsa. Sedangkan kata Syu’aibun berarti suatu suku kecil dari sebuah kabilah. Kata Bin berasal dari Ibnun artinya anak lelaki, sedangkan kata Soleh berarti orang yang baik, baik namanya, kepribadiannya, akidahnya, keturunannya, agamanya, pemikirannya dan juga akhlaknya.

Di samping itu, menurut Imam Suyuti dalam kitabnya al-Jami’us Soghir, secara lahir ada ciri-ciri khusus yang melekat pada pemuda ini. Ciri-ciri ini adalah merupakan bukti kecintaan pemuda ini untuk menghidupkan sunnah Rasulullah SAW dalam segala aspeknya :

* Dia berkumis tipis, berjanggut panjang dan berjambang tipis ; Dalam Ihya Ulumuddin oleh Imam al-Ghazali disebutkan bahwa orang-orang wara adalah orang yang berkumis tipis. Janggut juga adalah sunnah Nabi SAW dan sunnah sekalian nabi dan rasul sejak zaman dahulu kecuali Nabi Adam AS, Nabi Adam AS memang sejak asal kejadiannya, tidak mempunyai janggut.

* Dia memakai serban ; Saat ini amalan sunnah seperti serban ini sering diolok-olok dan diabaikan banyak orang.

* Dia memakai jubah dan gamis berwarna hijau dan hitam; Pada saat itu hanya beliau dan jemaahnya sahaja yang memakai jubah. tidak ada pemimpin Islam lain yang menggalakkan jamaahnya untuk memakai jubah sebagai suatu sunnah Nabi SAW dan dengan niat mau membesarkan sunnah Nabi SAW itu.

* Dia senantiasa memakai celak mata ; Celak juga amalan sunat. Setiap orang Islam sama ada lelaki atau perempuan adalah disunatkan memakai celak mata. Ada hadis Nabi SAW yang menyatakan bahawa bercelak itu sunat hukumnya. Para sahabat dahulu suka bercelak, kerana mengikut amalan Nabi SAW. Para ulama dahulu (salaf dan khalaf) yang solihin adalah golongan yang suka memakai celak. Mereka memandang perbuatan memakai celak itu sebagai suatu sunnah yang penting dan besar, terutama dalam mendekatkan diri kepada Khaliq.

* Dia senantiasa memakai tongkat ; Tongkat juga merupakan sunnah Rasulullah SAW, para Khulafaur Rasyidin, para wali dan ulama muktabar zaman dahulu. Sungguh pun badannya masih segar dan boleh berjalan tanpa menggunakan tongkat, beliau memakainya sebagai suatu sunnah Nabi SAW yang perlu dijaga.

* Dia bertubuh serba sederhana ; Tubuhnya tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu rendah, bentuk tubuhnya tidak besar (gemuk) dan tidak kecil (kurus). Tubuh badannya adalah serba sederhana, sesedap mata memandang.

* Kulitnya tidak terlalu gelap dan tidak terlalu putih ; Dikatakan kulitnya berwarna kuning, bahwa Nabi SAW menjelaskan bahawa Pemuda Bani Tamim itu memang bukan berkulit Arab karena orang Arab biasanya berkulit merah atau putih kemerah-merahan.

* Dia bertutur dengan bahasa Ajam bukan bahasa Arab ; Pemuda ini sehari-harinya bertutur dengan bahasa lokal tempat ia hidup. Namun dia juga tetap bisa bertutur dalam bahasa Arab dengan baik dan fasih, sesuai dengan pendidikan dan suasana keluarganya yang mendorongnya mampu menguasai bahasa Ajam dan Arab.

Inilah sebagian dari ciri-ciri pemuda Bani Tamim yang dinubuwahkan oleh Rasulullah SAW. Lalu bagaimana kita menyikapinya ? Sebagaimana para sahabat RA, juga sebagaimana Imam Suyuti RA, maka kita seharusnya juga bergegas untuk menyambut dan mencari pemuda yang mempunyai ciri-ciri semacam itu.

Sifat-sifat Pemuda Bani Tamim

Terdapat sifat-sifat khusus yang melekat pada diri pribadi Pemuda Bani Tamim ini :

1. Dia adalah seorang mujaddid yang berperanan menghidupkan dan menyuburkan kembali agama. Kesuburan agama berawal dari iman yakni bagaimana manusia kembali mengenali Allah SWT. Nama Allah SWT itu kembali diagungkan di dalam kehidupan manusia. Hidup kembali berpanduan syariat, akhlak umat kembali mempesona. Pribadi Pemuda Bani Tamim itu sendiri pastilah seorang yang sangat kuat imannya seperti ciri-ciri keimanan orang-orang utama.

2. Pemuda Bani Tamim termasuk pemimpin yang dijanjikan, iaitu seorang mujaddid yang disebut oleh Rasulullah SAW. Setiap pemimpin yang dijanjikan itu maka kemenangannya juga dijanjikan dan segala wasilah lahirah dan maknawiyah juga turut dijanjikan.

Ketaqwaannya amat tinggi, disinilah sebenarnya letak kualitas seorang pemimpin.

3. Sayidina Umar Ibnu Abdul Aziz memiliki anugerah khususiah yaitu menguasai pemerintahan negara (daulah). Maka Pemuda Bani Tamim juga memiliki anugerah khususiah yang memang telah disebut oleh hadis sebagai “panji-panji hitam” (kekuasaan) dan tempatnya berasal disebut “dari sebelah Timur”.

4. Pemuda Bani Tamim ini ‘figurnya’ masih tersembunyi, hanya keterangan dan gambaran mengenai dirinya,sifat-sifat, keperibadian, pengaruh dan kekuasaannya sahaja yang dapat dinukil. Itupun lebih banyak merujuk kepada ciri-ciri atau sifat-sifat yang dimiliki oleh mujaddid sebelumnya. Kerana setiap mujaddid itu ada persamaan dalam beberapa aspek asas atau pokok. Namun oleh kerana setiap mujaddid itu muncul di zaman yang berbeda, suasana atau situasi yang berbeda, tantangan yang berbeda maka peranannya juga sangat berbeda.

Setiap mujaddid memiliki keperibadian yang istimewa, dengan kelebihan itu dia mampu membawa umat kembali ke jalan Allah SWT dan ciri-ciri ini termasuk yang dimiliki oleh Pemuda Bani Tamim, di antaranya :

1. Jiwa

* Mereka sangat asyik dengan Tuhan sehingga seolah-olah Tuhan itulah kawan sejati mereka. Takut dan rindu kepada Allah SWT itulah yang memenuhi hati mereka, tempat merujuk segala persoalan dan masalah. Mereka memperoleh jawaban melalui ilham yang jatuh ke hati. Dalam segala urusan Allah SWT selalu didahulukan.

* Mereka selalu merasa tersiksa jiwanya dengan pujian karena merasa tidak layak mendapat pujian. Sebaliknya merasa terhibur dengan penghinaan, cercaan dan kutukan, mereka merasa diri mereka memang layak untuk dihina dan dicerca kerana asal manusia memang berasal dari sesuatu yang hina.

* Roh atau jiwa mereka yang berperanan dalam segala urusan, oleh karena senantiasa bergantung kepada Allah SWT maka roh mereka selalu dipelihara. Sehingga segala urusan mereka dikawal oleh Allah SWT. Apa saja yang terlahir adalah kata-kata hati mereka dan bukan dari perahan otak yang difikir-fikirkan.

* Keyakinan mereka sangat kuat sehingga tidak berubah dan bergerak dengan segala bentuk gangguan. Jiwa mereka hanya memperhitungkan untung-rugi disisi Allah SWT, bukan kepentingan diri dan keluarga. Seandainya sesuatu itu merugikan di sisi Allah SWT, maka akan ditolaknya walaupun hal tersebut merupakan sesuatu yang sangat mereka sayangi.

* Kemauan mereka sangat kuat, hati mereka seperti kepingan besi. Kalau gunung yang menjadi penghalang dalam perjuangannya, maka dia tidak akan mundur kecuali gunung itu akan runtuh dan rata dengan tanah.

* Kesabaran mereka luar biasa, selain sabar dalam menghadapi kegetiran, kesusahan, kesengsaraan, ujian dan cemohan, mereka juga sabar dalam mengharapkan kebaikan ke atas manusia. Seandainya seseorang berbuat sala maka tidak segera dihukum sebaliknya berbagai cara diusahakan untuk mendidik mereka walaupun terkorban harta benda. Kesabaran mendidik manusia ini menepati kesabaran Rasulullah SAW, para penentang mereka pun turut didoakan agar Allah SWT ampunkan.

* Mereka sangat sensitif kepada Allah SWT dan perkara-perkara yang berkaitan denganNya. Tidak ada ajaran Islam dan sunnah Rasulullah SAW yang dipandang remeh walaupun sesuatu itu hanya sekadar kedudukannya hanya sunat atau makruh. Persoalan duniawi biar bagaimanapun besar, mahal dan berharga, tetap dipandang remeh sekiranya terpisah atau terputus dari persoalan agama Allah SWT.

2. Pikiran mereka merupakan pancaran ilham yang datangnya dari Allah SWT.

* Pikiran mereka tidak pernah kering dan idenya bahkan selalu mengalir lancar, pikirannya datang dalam bentuk yang tersusun, lengkap dan jelas. Setiap lafaz dan ayat mengandungi pengertian yang cukup jelas. Adakalanya satu perkataan saja mempunyai pengertian yang luas.

* Pikiran yang keluar itu sangat sesuai dengan persoalan yang terjadi pada zaman mereka. Memperjelas, menjawab dan menyelesaikan segala persoalan di zaman mereka.

* Mengikuti pikiran mereka berarti dapat memahami syariat dan sekaligus dapat membina ketaqwaan. Pikiran mereka sangat tajam dan dapat melahirkan rasa berTuhan kepada umat dan dapat memberi kepahaman yang jelas bagi perkara yang perlukan kepahaman.

* Pikiran mereka bertentangan dan memadamkan segala kebatilan.

* Pikiran yang diperoleh dan disalurkan ke tengah masyarakat adalah bantuan dari Allah SWT yang dapat berupa ilham, laduni, hatif atau firasat. Ada di antara mereka yang memperolehi kesemuanya sekaligus.

3. Setiap mujaddid juga adalah mujahid (pejuang) yang berperan menegakkan agama Allah SWT

* Perjuangan menegakkan agama Allah SWT merupakan darah daging, semangat dan hidup mati para mujaddid. Tidak pernah luntur darah perjuangan seorang mujaddid. Kegembiraan, hiburan, perhatian, penumpuannya, kerja-kerjanya, pertimbangan, perhitungan dan keputusannya adalah untuk perjuangan.

* Kepintaran dalam berstrategi memang luar biasa. Strategi mereka berlapis-lapis dan sukar dikesan. Khalifah Umar Ibnu Abdul Aziz duduk berfikir selama tiga hari dapat membuahkan jalan penyelesaian untuk umat bagi jangka masa 30 tahun selepas itu.

* Ujian sering dilalui silih berganti sepanjang perjuangan. Ujian perjuangan itu untuk membina kematangan dan kemantapan pendokong-pendokong mereka. Apabila para pendokong mereka memenuhi syarat-syarat, maka saat Allah SWT datangkan pertolongan sangat hampir.

4. Akhlak

* Akhlak mereka terhadap Allah SWT sangat kentara dan menonjol yaitu selalu bersyukur terhadp nikmat, sabar dengan ujian, ridlo dengan musibah, bertaubat terhadap dosa serta tawadhuk di saat kemenangan.

* Ibadahnya sangat diperhalus, sopan dan sangat beradab. Hati mereka sering gundah merasakan sering merasa tak beradab dalam menyembah Allah SWT. Kalau tidak kerana tanggungjawab nescaya mereka tidak menemui masyarakat kerana asyik memikirkan diri.

* Akhlak mereka pada manusia sangat mempesona. Tutur kata mereka seperti siraman air dingin yang menyegarkan hati. Perbuatan dan tingkah lakunya menjadi pendorong untuk ditiru.

* Keseluruhan peribadinya dapatlah dibuat kesimpulan adalah bayangan pribadi Rasulullah SAW yang telah banyak menawan hati musuh sehingga mentauhidkan Allah SWT. Kerana pribadi Rasul itu adalah tanda-tanda kebesaran Allah SWT. Para Rasul itu memakai sifat-sifat keTuhanan kecuali sifat sombong. Melihat pribadi mereka akan terbongkar fitrah rasa berTuhan. Inilah yang dikatakan role-model yang merupakan photocopy pribadi Rasulullah yang lahir setiap 100 tahun atau setiap awal kurun Hijrah.

5. Pengorbanan

* Diri dan harta benda mereka adalah milik Allah SWT. Oleh karena mereka adalah ‘orang-orang Allah’ maka seluruhnya dikorbankan untuk Allah SWT dan tidak sedikit pun bimbang dengan pengorbanan yang habis-habisan karena mereka yakin Allah SWT tetap mencukupkan keperluan hidupnya. Allah SWT Maha Kaya, maka mereka merasa kaya dengan ‘memiliki’ Allah SWT.

* Harta bendanya singgah di tangan dan tidak melekat di hati. Dengan demikian semuanya mudah meluncur dari tangan mereka. Rumah biar bagaimanapun besar dan kelihatan mewah, namun mereka sendiri merasai seperti menumpang karena harus berbagi dengan umat dalam membesarkan asama Allah SWT dan agamanya.

6. Al-Mansur-Senantiasa ditolong

* Semua mujaddid selalu dibantu oleh Allah SWT sesuai dengan keperluan jaman dan situasi.

* Al-Mansur ini adalah gelar yang khusus yang diberikan kepada Pemuda Bani Tamim. Pemuda ini sangat dibantu, ditolong, dibela dan dipelihara oleh Allah SWT. Siapa yang membantu dan menolongnya maka mereka pula akan dibantu, dan siapa yang menghinanya maka Allah SWT akan mendatangkan kehinaan ke atas dirinya, dipahami atau tidak, sadar atau tidak.

7. Ruhbanu Billail Wa Fursanu Finnahar-Rahib; Rahib di waktu malam, penunggang kuda di waktu siang.

* Khususnya kepada pengikut setia Pemuda Bani Tamim mereka itu disifatkan sangat rajin bekerja, tangkas,cergas dan bersungguh-sungguh walaupun tanpa mengharapkan ganjaran, sementara di waktu malam mereka itu seperti rahib yang sangat kuat beribadah.

* Seandainya dilihat pada sejarah para sahabat, salafussoleh dan khususnya mujaddid, ini sifat utama yang mereka miliki. Khalifah Umar Ibnu Abdul Aziz hampir setiap malam menangis, merintih kepada Allah SWT. Salehuddin Al Ayubi meninggalkan tenteranya yang tidak bangun malam dari menyertai pertempuran. Muhammad Al-Fateh yang diasuh oleh gurunya Shamsudin Al-Wali tidak pernah meninggalkan sembahyang tahajud semenjak umur baligh. Dan itulah pula syarat Muhammad Al-Fateh kepada tenteranya.

8. Tabligh

* Setiap mujaddid adalah merupakan pemimpin bersifat Rasul iaitu sifat kehambaannya sangat menonjol dan sifat kekhalifahannya sangat menonjol. Subur agama di zaman mujaddid karena mereka selalu menyampaikan kebenaran kepada manusia. Tidak ada yang disembunyikan dari setiap mujaddid, mereka sangat takut dan bimbang terhadap sesuatu kebenaran yang tidak disampaikan.

* Bukan sekedar bimbang kalau-kalau kebenaran itu tidak disampaikan tetapi pandai pula menghidangkan kebenaran itu sehingga mudah dipahami dan mudah pula diamalkan. Manusia bukan saja tertarik dengan apa yang disampaikan malah sangat mudah terdorong untuk mengamalkannya. Hati manusia mudah lunak dan jinak kepada Allah SWT dan syariat. Lantaran itulah di zaman adanya mujaddid, Islam itu subur di kalangan umat. Kepada Pemuda Bani Tamim diberi karomah besar yaitu sangat membawa hati manusia kepada mengenal Allah SWT, membesarkanNya, mengagungkanNya, taat dan beribadah kepadaNya.

* Bukan sekedar kebenaran itu disampaikan keluar dari hati dan lidah mereka malah kemauan mereka ialah agar semua manusia mendapat peluang untuk menerima Islam. Artinya Islam itu tersebar luas kepada semua manusia di mana saja.

* Oleh karena Pemuda Bani Tamim berada di jaman teknologi canggih, maka segala kecanggihan teknologi itu juga digunakan sepenuhnya untuk menyampaikan pesan kebenaran.

9. Kasih Sayang

* Khusus kepada Pemuda Bami Tamim, dia menjadikan pengikut setianya atau ikhwan itu sebagai anaknya sendiri sehingga ikhwan itu pula sesama mereka itu seperti satu bapa dan satu ibu.

* Mujadid itu bersikap seperti bapa yang senantiasa memberi kasih sayang dan melindungi.

* Adanya sifat dan sikap seperti seorang ibu yang senantiasa mengasihi, membelai dan tempat mengadu dan bermanja-manja.

* Adanya sifat seperti guru yang senantiasa mendidik, memberikan petunjuk, memberi kepahaman, menegur untuk memperbaiki kesalahan.

* Adanya sifat dan sikap sahabat yang senantiasa setia, bersama dalam susah dan senang, sedia membantu dan sangat membela.

10. Penerimaan masyarakat.

* Pertarungan antara iman dan nafsu, haq dan batil, keadilan dan kezaliman senantiasa berlaku di sepanjang jaman. Penguasaan antara keduanya di atas muka bumi ini sering silih berganti.

* Di antara dua golongan ini tetap ada pemimpin yang menjadi pelopor. Artinya ada tokoh yang adil dan tokoh yang zalim di pihak yang batil.

* Penzalim tidak akan kalah kecuali di tangan tokoh kebenaran yang benar-benar soleh. Apalagi kalau kebatilan itu berada di tangan super zalim maka untuk mengalahkannya harus ada di pihak yang haq itu tokoh yang super soleh.

* Kepada mujaddid Pemuda Bani Tamim ini terjadi satu pemisahan yang sangat kentara ketika munculnya, yaitu orang yang amat cinta dan orang yang amat membenci sehingga kedua pihak ini hilang rasional masing-masing.

Lalu siapakah sebenarnya sosok Pemuda Bani Tamim ini ? Tugas kita lah untuk mencari dan menemukannya, setelah itu mengikutinya dengan sepenuh hati ! Wallahu a’lam

Copyright © Juni 2010, Allah Kuasa Makhluk Tak Kuasa

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.