Nama sahabat Rasul, Sa’id bin ‘Amir ini jarang sekali kita dengar. Beliau termasuk dalam jajaran tokoh para sahabat Rasul yang terkemuka yang hampir setiap kepribadian yang mulia melekat dalam dirinya. Ketakwaan, kesederhanaan, kesahajaan, … Lihat Selengkapnya keshalehan, dan sifat wara’ serta sifat zuhudnya menjadi sifat yang melekat dalam diri Sa’id, namun sifat-sifat kemuliaan yang ia miliki tersebut tidak hendak ditonjolkannya. Beliau seperti sahabat- sahabat lainnya termasuk yang tidak pernah absen dalam setiap perang yang terjadi di zaman Rasul Saw, karena sudah menjadi prinsip hidup dan keyakinan mereka bahwa tidak patut jika ada seorang mu’min yang absen menyertai Rasul Saw baik dalam kondisi perang maupun damai. Beliau masuk Islam tidak lama setelah pembebasan Khaibar. Sifat zuhud adalah sifat yang menjadi prinsip kehidupan mereka yang kita kenal dengan istilah kaum sufi yang disandarkan pada orang-orang yang selalu berusaha hidup meninggalkan kemewahan dunia. Tampilannya yang sangat bersahaja, berpakaian kumal dan rambut tidak rapi, sering kali bahkan orang sulit membedakan antara Sa’id bin ‘Amir dengan umumnya fakir miskin. Pendek kata, jika dilihat penampilannya sehari-hari sama sekali tidak akan menggambarkan cermerlangannya hati beliau. Tetapi di balik penampilan lahiriyah yang sangat sederhana dan bersahaja di dalamnya terdapat jiwa yang sangat mulia, jikalau diibaratkan bak mutiara yang tersimpan di perut lokan. Namun beliau tetap mulia di mata para sahabat termasuk Umar bin Khathab Ra. Hal inilah yang sudah seharusnya menjadi ukuran standar kita dalam menilai mulia dan tidaknya seseorang. Disadari atau tidak, kini kita sudah lama terseret dalam kesalahan penilaian di mana mengukur mulia atau tidaknya seseorang dengan ukuran duniawi. Sehingga kita menilai mulia tidaknya seseorang dilihat dari kaya atau miskinnya atau tinggi dan rendahnya jabatan yang bersangkutan. Kondisi ini tentu sangat jauh berbeda dengan kepribadian Sa’id bin ‘Amir. Kepribadian mulia beliau menjadikan orang lain sangat menghormatinya, termasuk Amirul Mu’minin Umar bin Khathab Ra yang sangat memuliakannya. Karenanya, tatkala Amirul Muminin memecat Mu’awiyyah sebagai kepala daerah di Syria, maka beliau pun menimbang-nimbang siapa calon penggantinya. Cukup lama bagi Umar untuk memilih pengganti Mu’awiyyah, karena Umar mempunyai kriteria yang sangat ketat dan teliti untuk memilih seorang pemimpin atau pejabat. Sebab beliau sadar betul bahwa apabila seorang pejabat yang dipilihnya melakukan kesalahan, maka ada dua orang yang bertanggungjawab di hadapan Allah, dirinya dan pejabat yang diangkatnya. Mengangkat seorang pejabat bukan urusan senang atau tidak senang, dekat atau tidak dekat, karena harus dipertanggungjawabkan di hadapan-Nya. Sehingga urusan pilih-memilih seorang menjadi pemimpin bukan urusan kecil atau sederhana, sebab jika kita memilih seseorang untuk menjadi pemimpin kemudian selama dia memegang jabatannya tidak amanah, maka tentu saja kita pun ikut bertanggungjawab di akhirat nanti. Karenanya, Umar sangat berhati-hati dalam mencari-cari siapa gerangan yang patut menggantikan Mu’awiyyah sebagai kepala daerah di Syria. Terlebih lagi saat itu Syria telah menjadi daerah yang sangat modern, menjadi pusat perniagaan dan tempat yang sesuai untuk bersenang-senang. Sehingga daerah ini menjadi daerah yang bisa menimbulkan godaan bagi siapa pun yang menjadi pejabat di daerah tersebut. Menurut Umar, tidak ada yang patut memimpin daerah Syria saat itu kecuali orang yang betul-betul suci dirinya dari kecenderungan yang buruk, seorang pribadi yang akan menjadikan syetan pun takut menghadapinya, bukan pribadi yang selalu bertekuk lutut pada syetan. Maka yang pantas tampil adalah seorang pribadi yang benar-benar taat kepada Allah, takwa dan zuhud yang hidupnya selalu berlindung kepada Allah SWT. Maka setelah lama Umar merenung, akhirnya beliau pun berteriak di hadapan para sahabat lainnya dengan menyatakan: “Alhamdulillah, sudah aku temukan orang tersebut, dia adalah Sa’id bin “Amir”. Dipanggillah Sa’id menghadap Amirul Mu’minin, dan Umar pun menawarkan kepada Sa’id untuk menjabat sebagai kepala daerah di kola Horns, Syria. Seperti halnya para sahabat lainnya, Sa’id pun langsung menolak sambil mengatakan: “Wahai Amirul Mu’minin, jangan engkau hadapkan aku dengan sebuah fitnah!”. Sa’id selalu teringat atas sabda Rasul: “Jabatan (kedudukan) pada permulaannya penyesalan, pada pertengahannya kesengsaraan (kekesalan hati) dan pada akhirnya azab pada hari kiamat” (HR. Athabrani). Para sahabat menyadari betul bahwa jabatan adalah amanah, jika tidak amanah dalam memikul jabatannya maka dia tidak bisa mengelak untuk mempertanggungjawabkan di hadapan Allah. Menyikapi penolakan Sa’id, Amirul Mu’minin dengan nada keras mengatakan: “Demi Allah, aku tidak akan pernah menerima penolakanmu”. Dengan nada tinggi pula Umar menyatakan: “Adakah engkau letakkan amanah dan kekhalifahan di pundakku lalu kalian beramai-ramai meninggalkanku?” Dalam sekejap langsung Sa’id sadar dan yakin bahwa memang tidak patut rasanya para sahabat mengangkat Umar sebagai khalifah lalu mereka meninggalkan Umar sendiri dalam memimpin kekhalifahan. Akhirnya Sa’id pun menerima jabatan tersebut. Tak lama kemudian berangkatlah Sa’id bersama istrinya yang terkenal kecantikannya ke Horns yang saat itu mereka berdua baru menikah. Umar pun membekali mereka berdua untuk kehidupan selama di Horns. Dikisahkan ketika mereka sudah menetap di Horns, berkatalah istri Sa’id kepada suaminya yang bermaksud ingin memanfaatkan uang bekal yang diberikan oleh Amirul Mu’minin untuk membeli kebutuhan secukupnya dan memanfaatkan sisanya untuk bisnis/usaha. Mendengar permintaan istrinya, Sa’id berkata: “Maukah engkau aku tunjukkan sesuatu yang jauh lebih baik dari apa yang akan engkau lakukan? Ketahuilah, sekarang kita berdua tinggal di sebuah negeri yang perdagangannya sangat maju, maka sebaiknya uang bekal dari Umar kita titipkan saja kepada para pedagang agar memperoleh keuntungan yang sangat besar”. Berkata istrinya: “Bagaimana jika pedagang tersebut mengalami kerugian yang berarti kita tidak memperoleh apa-apa?” Jawab Sa’id: “Aku yakin dan menjamin itu tidak akan pernah terjadi”. Istrinya pun menerima setelah mendapat jaminan dari suaminya. Pergilah Sa’id meninggalkan rumah untuk membeli kebutuhan hidup yang sederhana untuk mereka berdua, sementara sebagian besar sisa uangnya beliau bagikan habis kepada fakir miskin. Tak terasa roda kehidupan berjalan terus dari hari berganti hari, suatu saat istri Sa’id bertanya: “Wahai suamiku, bagaimana kondisi usaha kita, sudah banyakkah keuntungannya? Jawab Sa’id: “Alhamdulillah, perniagaan kita cukup pesat perkembangannya dan keuntungannya semakin hari semakin banyak”. Suatu hari kembali istrinya bertanya di hadapan beberapa karib kerabatnya yang mengetahui permasalahannya, Sa’id ‘ pun tersenyum dan tertawa. Senyuman dan tawa Sa’id menjadikan istrinya mendesak suaminya untuk menyatakan yang sesungguhnya. Sa’id berkata: “Semua sisa uang sudah habis aku sedekahkan kepada fakir miskin”. Inilah perniagaan yang hakiki yang dijamin dan dijanjikan oleh Allah SWT melalui firman-Nya: “Hai orang-orang yang beriman, maukah kalian Aku tunjukkan kepada kalian suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kalian dari azab yang pedih? Hendaklah kalian beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjuang pada jalan Allah dengan harta dan diri kalian. Demikian itu adalah lebih baik bagi kalian jika kalian mengetahui” (OS. Ash Shaft. 61:10-11). Melalui ayat ini Allah mengajarkan kepada kita untuk ikhlas mengorbankan dunia untuk bisa membeli kebahagiaan akhirat. Apa pun yang ada di dunia harus siap dikorbankan untuk bisa mencapai kebahagiaan akhirat. bukan sebaliknya akhirat yang dikorbankan untuk bisa mencapai kebahagiaan dunia. Mendengar jawaban suaminya yang telah menghabiskan sisa uangnya dibagikan kepada fakir miskin, menangislah istri Sa’id dan menyayangkan langkah suaminya tersebut. Melihat istrinya sedang menangis, Sa’id merasakan betapa derai air mata kesedihan istrinya menambah kecantikannya. Karena beliau sangat takut jika tangisan istrinya bisa melemahkan prinsip hidupnya, maka beliau pun berucap: “Sungguh aku pernah mempunyai para sahabat yang telah mendahului aku menghadap Allah, mereka sudah mendapatkan tempat yang mulia di sisi-Nya. Aku, Demi Allah akan berusaha untuk terus mengikuti jejak mereka, sedikit pun aku tidak akan menyimpang dari langkah mereka walaupun aku harus mengorbankan dunia dengan segala isinya”. Lalu secara khusus beliau berkata kepada istrinya: “Wahai istriku, kau pasti mengetahui bahwa di syurga itu banyak gadis-gadis cantik yang memiliki kesempurnaan dan kecantikannya, andaikata saja salah satu dari mereka gadis di syurga turun ke bumi maka bumi ini segera akan terang karena cahayanya mengalahkan cahaya matahari dan bulan. Aku tidak mungkin mengorbankan mereka hanya karena engkau, yang paling mungkin aku korbankan engkau demi mereka”. Mendengar komitmen suaminya yang demikian kuat, istri Sa’id pun langsung menyadari. Maka tenanglah jiwa istrinya, dan ia sangat yakin sekali bahwa tidak ada jalan yang bisa menyelamatkan dia kecuali mengikuti jalan yang ditempuh suaminya, mengikuti ketakwaan dan zuhudnya hidup suami. Inilah puncak kebahagiaan hidup jika prinsip hidup sudah sejalan untuk menuju keridhaan-Nya. Horns adalah kota di Syria yang dikenal dengan julukan Kufah kedua. Dijuluki seperti itu, karena masyarakatnya dikenal sangat kritis dan pembangkang terhadap pemimpinnya. Karenanya, Umar bin Khathab sebagai khalifah pernah menanyakan kepada mereka perihal pandangan mereka terhadap kepemimpinan Sa’id. Reaksi mereka sangat positif karena sebagian mereka mengatakan: “Kami sangat mencintai Sa’id”. Suatu saat Umar menyampaikan berita tersebut kepada Sa’id: “Wahai Sa’id, Aku mendengar masyarakat Horns sangat mencintaimu”. Alhamdulillah, mungkin karena aku selalu menolong dan membantu mereka, kata Sa’id. Namun, bukanlah kota Horns jika tidak ada gejolak walaupun mereka dipimpin orang yang sangat bijaksana, tetap saja masyarakatnya selalu kritis jika ada hal-hal yang mereka tidak sukai. Suatu hari Umar mendatangi masyarakat Horns yang sedang berkumpul, kata Umar, cobalah kalian himpun apa saja yang kalian tidak sukai dari diri Sa’id. Tampillah di hadapan Umar seorang menjadi juru bicara mereka sambil mengatakan: “Ada empat hal yang tidak kami sukai dari Sa’id. Petama, beliau tidak pemah keluar dari rumahnya untuk menemui kami kecuaii matahari sudah mulai tinggi. Kedua, beliau tidak pernah mau melayani kami di malam hari. Ketiga, dalam sebulan palling tidak ada dua hari beliau sama sekali tidak keluar dari rumah. Keempat, yang sebenarnya tidak masalah bagi beliau tapi mengganggu kami karena beliau seringkaii kami jumpai pingsan”. Mendengar pengaduan tersebut, Umar pun tertunduk sambil seolah beliau berbisik memohon kepada Allah: “Ya Allah, aku hanya mengetahui Sa’id adalah seorang hamba-Mu yang terbaik. Semoga firasatku tidak salah untuk memilih Sa’id”. Kondisi ini membuat Umar menjadi khawatir jangan-jangan beliau telah salah memilih seorang pejabat, karena bagi Umar jika salah memilih pejabat maka ada dua orang yang harus berhadapan dengan Allah, dirinya dan pejabat itu sendiri. Umar pun memberikan kesempatan kepada Sa’id untuk membela diri. Berkatalah Sa’id, pertama, mereka mengatakan bahwa aku tidak pernah keluar rumah kecuali matahari sudah mulai tinggi, Demi Allah, aku tidak suka menyampaikan sebab hal ini terjadi, di rumah aku tidak ada seorang pelayan maka akulah yang mengayak tepung sampai akhirnya menjadi roti untuk sarapan, lalu aku mengambil wudhu untuk shalat sunnah Dhuha dan barulah aku keluar untuk memenuhi keperluan mereka. Mendengar penuturan Sa’id, Umar pun berseri-seri lalu beliau berkata, Alhamdulillah, segala puji bagi Allah. Bagaimana dengan yang kedua wahai Sa’id, kata Umar. Sa’id berkata: “Aku tidak pernah mau melayani seorang pun di malam hari, Demi Allah, sungguh aku tidak suka untuk menyampaikan ini semua, karena aku telah menjadikan siang hari adalah untuk mereka sementara malam hari aku khususkan untuk beribadah kepada Allah SWT. Adapun yang ketiga, ada dua hari setiap bulan aku tidak keluar menemui mereka, sekali lagi aku katakan aku tidak mempunyai seorang pun pelayan di rumah untuk mencuci baju-bajuku, dan aku tidak mempunyai pakaian pengganti maka aku mencuci baju lalu aku tunggu hingga kering untuk kupakai barulah aku akan keluar setelah itu. Dan yang keempat, kenapa aku sering pingsan berkali-kali, dulu aku pernah menyaksikan bagaimana penderitaan Khubaib al-Anshari yang disiksa oleh kaum musyrikin Quraisy karena dia masuk Islam disiksa dengan disayat-sayat tubuhnya lalu dia diangkat dalam sebuah tandu sambil mereka berkata kepada Khubaib yang sudah sangat menderita, maukah posisimu digantikan oleh Muhammad Rasulullah, Khubaib pun mengatakan, Demi Allah, aku tidak akan pernah rela tinggal bersama keluarga dan anak- anakku dalam keadaan tenang dan senang, sementara kubiarkan Rasul teraniaya walaupun hanya karena satu duri sekalipun. Setiap kali aku mengingat peristiwa Khubaib yang aku pernah saksikan bagaimana dia disiksa dengan siksaan yang tidak tertahankan, aku menyaksikan karena waktu itu aku masih musyrik dan tatkala itu aku sama sekali tidak berbuat untuk menolong Khubaib. Setiap kali aku ingat peristiwa Khubaib, menyebabkan aku pingsan. Usai menyampaikan empat hal tersebut, badannya tampak gemetar sementara air matanya terus mengalir membasahi seluruh wajahnya dan Umar pun larut dalam kesedihan, dipeluknya Sa’id sambil Umar berkata: “Alhamdulillah, segala puji hanya untuk Allah, sungguh tidak meleset firasatku untuk memilih Sa’id bin ‘Amir sebagai pejabat di Horns”. Dipeluknya erat-erat Sa’id sambil Umar mencium kening Sa’id. Suatu ketika seseorang pernah mengatakan kepada Sa’id: “Wahai Sa’id, manfaatkanlah harta yang ada untuk bisa membahagiakan keluargamu”. Jawab Sa’id: “Demi Allah, aku tidak akan pemah menjual ridha Allah hanya untuk menyenangkan keluargaku”. Beliau selalu ingat sabda Rasul Saw: “Di akhirat nanti Allah akan mengumpulkan manusia untuk dihisab, datanglah orang-orang mu’min yang fakir dan miskin berkumpul seperti berkumpulnya burung-burung merpati, lalu dikatakan kepada mereka oleh malaikat, berbarislah kalian untuk menghadapi hisab Allah. Orang-orang mu’min yang fakir dan miskin berkata, kami tidak ada sesuatu yang patut untuk dihisab oleh Allah karena kami miskin. Allah kemudian berkata: Benar apa yang diucapkan mereka. orang-orang miskin dan fakir dari orang-orang mu’min itu akan memasuki syurga sebelum yang lain”. Di dalam hadits lain Rasul menyatakan, orang-orang miskin dan orang-orang kaya dari ummatku yang sama-sama calon penghuni syurga, maka yang miskin akan masuk terlebih dulu daripada yang kaya, jaraknya setengah hari, ukuran akhirat yang sama dengan 500 tahun ukuran dunia. Akhir kisahnya, pada tahun 20 Hijriyah, maka wafatlah Sa’id menemui Allah Tuhannya dengan jiwa yang suci dengan ketakwaan yang sangat luar biasa. Sungguh telah menjadi kerinduan beliau untuk menyusul para sahabatnya yang lebih dulu menemui Allah SWT terutama untuk menyusul Rasul sang guru yang mulia yang telah mendidik beliau sehinga memiliki jiwa yang sangat mulia. Hari itu tercapailah cita-cita beliau, “Yaa ayyatuhan nafsul muthma-innah, irji’ii ilaa rabbiki raadhiyatam mardhiyyah, fad khulii fii ‘ibaadil, wad khulii jannatii” (Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan ridha dan diridhai, maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam Syurga-Ku) (QS. Al Fajr, 89:27-30). Wallahu a’lam bish-shawab.

Copyright © Juni 2010, Allah Kuasa Makhluk Tak Kuasa